Berita Terbaru :
walman

Lihat semua berita »
Lihat semua artikel blogger »
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makalah. Tampilkan semua postingan

Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain

naskah
Naskah (Foto: ilustration)
Filologi ialah disiplin ilmu yang membicarakan tentang naskah-naskah kuno dan guna meneliti naskah-naskah tersebut. Filologi memerlukan ilmu-ilmu bantu yang erat hubungannya dengan bahasa dan beberapa ilmu pendukung baik dari ilmu sosial sampai agama.

1. Ilmu Linguistik
Linguistik ialah ilmu mengenai bahasa; riset bahasa secara ilmiah yang hadir pertama kali pada tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johan Severin Vater dan Friedrich Justin Bertuch (Kridalaksana. 2011:114). Sementara kaitan antara filologi dan linguistik terefleksi dari objek pembahasannya, bahasa. Bilamana filologi melacak makna dari suatu teks yang  pada hakekatnya adalah bahasa, maka filologi memerlukan linguistik sebagai cara untuk memaknai bahasa masa silam dengan berbagai keunikannya.

Setelah itu, ada beberapa bagian linguistik yang diyakini dapat kondusif terhadap filologi dalam pembahasan naskah. Pertama, etimologi yang berguna untuk menggali asal muasal sejarah kata. Kedua, sosiolinguistik ialah bagian linguistik yang membahas koneksi antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Ketiga, yaitu stilistika ialah ilmu yang menyoroti gaya pada bahasa sastra, dengan ini filologi akan terbantu guna memahami umur teks tersebut.

2. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks.
Dalam bagian ini, seorang filolog harus dapat menguasai atau memahami bahasa-bahasa yang sering termuat dalam naskah kuno yang dapat mempengaruhi suatu teks. Umpama dalam sebuah naskah kuno dalam ranah Nusantara yang banyak dimotivasi oleh bahasa asing. Terutama ialah bahasa Sansekerta dan Arab. Kedua bahasa ini akan memuluskan seorang filolog untuk menjelaskan makna suatu naskah nusantara.

Umpama bahasa Sanskerta yang banyak ditemui dalam naskah cerita fantasi atau berupa epik Ramayana, mahabarata, dan Sang Hyang Kamahayanikan. Sementara dalam kaedah bahasa arab akan ditemui karya dalam melayu kuno berupa karangan Abdurauf Asssingkeli, Hamzah Fanzuri, Nuruddin Arraniri, dan lain-lain. Dalam karya ini, mereka memakai bahasa Arab yang menjelaskan banyak hal tentang agama Islam yang mempunyai bentuk tanpa syakal atau berharokat.

3. Paleografi
Dari beberapa ilmu pendukung dalam kajian filologi, paleografi ialah ilmu yang wajib dipunyai oleh seorang filolog disebabkan ilmu ini mengkaji tentang tulisan-tulisan kuno. Sementara hubungan antara keduanya ialah pembahasan tentang penjabaran tulisan-tulisan kuno baik dalam prasasti, batu ataupun logam. Lebih lanjut, paleografi akan memudahkan dalam menetapkan waktu dan tempat peristiwa tulisan tersebut. Hal ini sangat perlu, sebab indikator-indikator yang hadir dari tulisan tersebut akan memberi titik terang menenai siapa pengarang tulisan tersebut. Selain itu, hal yang tidak boleh dilewatkan ialah observasi anatomi dari tulisan itu sendiri seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan jarak baris dalam tulisan.
Dalam sejarah Asia tenggara, terdapat tulisan kuno yang dikembangkan di Nusantara dulu. Tulisan itu ialah tulisan yang disebut Palawa. Tulisan ini terbagi menjadi 2 ciri, palawa awal dan palawa lanjut. Palawa awal memperlihatkan adanya pengaruh dari India Selatan dan Sri Langka di abad ke-3 hingga abad ke-5. Sementara palawa lanjut, diawali pada abad ke-7 dan 8.

4. Ilmu Sastra
Dalam peradaban nusantara banyak sekali karya fantasi yang mengacu pada karya sastra. Karya sastra ini lebih dikontol dengan karya yang berjenis jenaka atau pelipur lara. Selain itu, ada juga kisah pewayangan yang menggambarkan cerita kehidupan manusia yang tercermin dari substansi agama Islam. Tentunya, itu seluruhnya memerlukan pendekataan yang signifikan demi memahami secara pasti makna dari kisah-kisah tersebut.

Untuk itu, pendekatan yang dirasa baik dan tepat ialah 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang diyakini oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendekatan intrinsik.
a. Pendekatan Mimeti
    Suatu pendekatan yang lebih memprioritaskan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra,
    hubungannya dengan dunia nyata.
b. Pendekatan pragmatik
    Pendekatan yang memprioritaskan respon atau pengaruh suatu teks kepada pembaca  atau
    pendengar.
c. Pendekatan ekspresif
    Suatu pendekatan yang fokus terhadap penulis karya sastra sebagai penciptanya yang memiliki
    banyak arti di dalam karyanya, terutama pada ekspresi dan emosi pengarang.
d. Pendekatan objektif
    Pendekatan yang membahas naskah tersebut tanpa melihat latar belakang (asal muasal)
    naskah tersebut. Namun, para sastrawan modern memperoleh suatu pendekatan yang disebut
    pendekatan represif. Pendekatan ini lebih menitikberatkan seberapa besar respons pembaca
    terhadap karya yang ada.

5. Ilmu Agama
Selain ilmu sastra atau  linguistik yang dibutuhkan dalam memahami sebuah teks, seorang filolog pula harus paham seluk-beluk mengenai agama yang ada di nusantara. Seperti Hindu, Budha dan Islam. Mengingat ketiga agama ini banyak pengaruh terhadap budaya nusantara. Di dalam ilmu bantu yang satu ini diharapkan seorang filolog dapat mengkoneksikan relevansi antara pengaruh agama dalam sebuah naskah seperti yang termuat dalam naskah Brahmadapura sebagai kitab panutan pemeluk agama Hindu.
Lebih lanjut, Dari sejumlah 5.000 naskah Melayu yang telah sukses ditulis oleh Ismail Hussein dari perpustakaan dan museum berbagai Negara yang terdiri dari 800 judul, 300 judul diantaranya seperti karya-karya dalam bidang ketuhanan (Baried, 1994:23).  Dalam penjelasan ini melambangkan bahwa ilmu mengenai agama mempunyai peran penting dalam pembahasan filologi yang nantinya dapat memberikan peran serta terhadap pengkajian isi dari suatu naskah.

6. Sejarah Kebudayaan
Penguasaan Sejarah Negara bagi seorang filolog akan kontributif dalam mengkaji sejarah dan kebudayaan yang telah ada secara runtut dan monumental. Melalui sejarah kebudayaan, kita dapat memahami seberapa jauh kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada waktu itu. Hal ini, sangat berbanding lurus dengan seberapa cerdasnya karya yang mereka hadirkan.

7. Antropologi
Secara singkat dijelaskan bahwa antropologi adalah penyidikan terhadap manusia dan kehidupannya (Partanto, 2001:44). Dari definisi yang ada, maka dapat dihubungkan dengan filologi  bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari adanya kebudayaan dan filologi membahas salah satu budaya dari manusia yang bersifat naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menitikberatkan observasi bagaimana manusia menyikapi naskah yang telah ada dari zaman dahulu hingga sekarang. (*)
Description: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain

Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain

Naskah Kuno
Naskah kuno (Foto: java)
Sebuah kreasi baik sastra atau tidak berbentuk refleksi keintelektualan masyarakatnya. Objek inilah yang berusaha ditelaah oleh filologi dalam memahami setiap naskah kuno yang ada sebagai sasaran diagnosisnya. Hasil pembahasan ini, dapat juga dimanfaatkan guna mencermati adat istiadat masyarakat tempo dulu yang bisa diaplikasikan sebagai data peninjauan ilmu-ilmu lain. Dengan kata lain, filologi menyediakan beberapa data yang telah difilterisasi berdasarkan kandungan naskah itu sendiri dan mengategorikannya. Sementara beberapa ilmu yang menginisisasikan filologi sebagai ilmu bantu adalah ilmu sejarah, ilmu kebudayaan, ilmu agama, ilmu adat istiadat, dll.

a. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Linguistik
Guna eksplorasi linguistik dan kronik, hal ini sangat dibutuhkan bagi seorang juru linguistik membutuhkan suntingan teks lama dan bahasa dari teks lama tersebut juga diperlukan oleh Filologi, sebab dapat menggali dan menyelidiki serta membandingkan sistem bahasa tulis dengan bahasa sehari-hari.

b. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sastra
Terutama seperti pensuplaian suntingan naskah lama dari hasil penelitian teks yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan penataan sejarah sastra atau teori sastra. Hasil-hasil telaah terhadap teks-teks sastra lama akan sangat bermanfaat untuk mengklasifikasikan teori-teori ilmu sastra secara umum.

c. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah Kebudayaan
Filologi mengekspos khazanah warisan nenek moyang seperti: kepercayaan, adat istiadat, kesenian, dll. Termasuk juga beberapa elemen-elemen sekarang sudah punah (seperti: istilah-istilah bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang, dsb.)

d. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah
Naskah-naskah di bumi pertiwi diyakini berisi teks sejarah (contoh: Negarakertagama, Pararaton). Dapat digunakan sebagai rujukan sejarah jika sudah diuji berlandaskan sumber-sumber lain. Sebagai informasi gambaran kehidupan masyarakat yang jarang ditemui seperti: Serat wicarakeras yang memberikan kritikan tajam terhadap masyarakat Surakarta (lingkungan keraton).

e. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Hukum Adat
Terutama dalam penyediaan teks. Penulisannya baru dilaksanakan kemudian hari, jika dirasakan perlu kepastian peraturan hukum oleh raja atau setelah ada dampak dari barat. Contoh, Kitab Angger-angger; Praniti Raja, Surya Ngalam, Nawala Pradata, Angger Sadasa, dll.

f. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Dalam Historis Perkembangan Agama
Naskah-naskah jawa kuno dominan dikontrol oleh agama Budha dan Hindu. Hasil suntingan teks religi dan hasil analisis maknanya menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna.

h. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Filsafat
Teks-teks sastra banyak bermuatan nasihat dan adagium. Naskah-naskah yang berisi tasawuf bermuatan filsafat yang banyak, terutama Melayu dan Jawa.
Description: Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain

Kajian Hisab: Manfaat Belajar Ilmu Falak

Manfaat Ilmu Hisab Falak
Ilmu Falak (Foto: Tradisional)
Dengan memahami ilmu falak maka kita akan memperoleh antara lain :
1. Penguasaan  dan
    pengembangan ilmu
    pengetahuan dan
    teknologi.
2. Untuk kegunaan yang
    berhubungan dengan
    masalah-masalah
    ibadah,
    seperti shalat, puasa
    dan haji.
3. Penetapan waktu shalat
    yang lima, penentuan
    arah
    kiblat, penentuan awal
    bulan Qamsriyah
    untuk puasa ,haji, dan
    hari-hari besar islam.
4. Penentuan saat terjadinya
    peristiwa gerhana bulan dan
    matahari.
5. Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadhan, bulan Zulhijjah, shalat gerhana.
6. Menetapkan perhitungan tahun unbtuk zakat kekayaan.
7. Membina keyakinan bagi setiap muslim melaksanakan ibadah, sehingga ibadahnya lebih khusyu’.

Baca juga:
1. Ruang Lingkup Ilmu Falak
2. Hisab dan Rukyat
3. Pengertian Ilmu Falak

Pustaka:
Rafni, Ilmu Falaq I, (Padang: Hayfa Press, 2010), cet .ke-1.
Ba’albaki, Munir ,Al-Mawarid Modern English Arabic Dictionary,
                (Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1970), Cet.Ke-3, H.
Tim Penyusun Pustaka, leksikon Islam, (Jakarta: Pustaka Azet, 1988), jilid 1, cet ke-1.
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dasuki, Hafidz,  Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ictiar Van Hoeve, 1994),  jilid 1.
Aziz , Abdul, Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam,
                 (Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, 1997), jilid 1.
Description: Kajian Hisab: Manfaat Belajar Ilmu Falak Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Kajian Hisab: Manfaat Belajar Ilmu Falak

Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat

Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat
Hisab (Foto: Galaxy)
1. Hisab
Istilah hisab bersumber dari bahasa Arab yang berarti perhitungan. Sedangkan dalam Ilmu Falak, hisab itu ialah perhitungan pergeseran benda-benda langit untuk mengetahui kedudukan pada suatu saat yang diinginkan. Jika hisab dikhususkan implementasinya pada perhitungan waktu shalat ataupun perhitungan awal bulan, maka yang dimaksudkan di sini ialah memastikan posisi ataupun kedudukan bulan.

Karena hisab awal waktu yang diterapkan adalah waktu matahari, aktifitas hisab untuk menetapkan waktu selalu dihubungkan dengan kedudukan matahari yang diukur dengan kesatuan waktu yang disebut dengan Waktu Matahari Bertengahan. Waktu matahari bertengahan ini sebetulnya Waktu Matahari Hakiki yang dibuat rata, biasanya diselaraskan dengan waktu daerah, yakni waktu-waktu yang telah ditentukan bujurnya, sedangkan bagi tempat-tempat yang bujurnya disebelah barat bujur yang dijadikan pedoman ditambahkan dengan selisih bujur tersebut.

hasil dari perhitungan ini dinyatakan sebagai waktu daerah. Di samping masih diketahui waktu Internasional (Internasional Civil Time). Sebab yang dijadikan patokan waktu internasional adalah kota Greenwich, maka populerlah waktu Internasional dengan sebutan Greenwich Mean Time (GMT).

Sekiranya waktu ini dijadikan sebagai kriteria rujukan, maka tiap bujur di sebelah timur Greenwich  dikurangi dengan selisih bujur lokasi itu dengan bujur Greenwich. Padahal untuk kota-kota yang bujurnya sebelah barat bujur Greenwich ditambahkan, sehingga dengan demikian didapatlah kesatuan waktu. Waktu inilah yang diaplikasikan untuk menetapkan kedudukan tempat suatu wilayah di atas permukaan bumi.

2. Rukyat
Rukyat adalah melihat hilal ketika matahari terbenam tanggal 29 bulan Qamariyah, Seandainya hilal berhasil dirukyat, maka sejak matahari terbenam tersebut sudah terhitung bulan baru, jika tidak terlihat, maka malam itu dan keesokan harinya masih merupakan bulan yang sedang berlanjut dalam arti bulan adalah 30 hari.
Keberhasilan rukyatul hilal tergantung pada situasi cuaca diufuk sebelah barat pos kita melakukan rukyat dan ketelitian mata si perukyat. Dari pengalaman yang sudah dilakukan, biasanya orang dapat memperhitungkan terlihat atau tidaknya bulan baru tersebut, namun inipun tidak berupa jaminan, hal ini dikarenakan tipisnya struktur hilal serta rupanya yang mirip dengan awan yang menjadi latar belakang hilal tersebut. Tapi umumnya umat islam di Indonesia sering sukses melakukan rukyat hilal teristimewa dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal.

Aktifitas merukyat dalam hal ini perlu mengamati hilal dibagian  langit sebelah barat ketika menjelang bulan baru, oleh karena itu sebelum rukyat dilaksanakan perlu dilokalisir posisi hilal tersebut menurut perhitungan yang teliti yaitu:
a) Ditetapkan berapa tinggi hilal,
b) Ditetapkan berapa azimutnya,
c) Ditetapkan berapa miringnya falak bulan dari ekliptik.

Untuk dijadikan rujukan utama dalam langkah awal yang harus dilaksanakan adalah menghitung jam berapa tinggi matahari yang sama dengan tinggi bulan yang akan dirukyat, serta berapa azimutnya. Setelah itu disediakan dalam kertas kerja dengan sket pergeseran matahari dari detik kedetik melewati lintasan hari bulan tersebut dengan lintasan matahari, kemudian ditunggulah saat matahari terbenam. Setelah itu dengan theodolit dapat ditetapkan di mana lokasi hilal itu sesuai dengan sket yang telah dibuat. Akhirnya gerakan bulan dari menit ke menit dapat ditelusuri dengan mencermati lintasan hariannya yang sejajar dengan lintasan matahari, maka rukyat dikehendaki akan sukses.

Baca juga:
1. Ruang Lingkup Ilmu Falak
2. Pengertian Ilmu Falak
3. Manfaat Ilmu Falak

Pustaka:
Rafni, Ilmu Falaq I, (Padang: Hayfa Press, 2010), cet .ke-1.
Ba’albaki, Munir ,Al-Mawarid Modern English Arabic Dictionary,
                (Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1970), Cet.Ke-3, H.
Tim Penyusun Pustaka, leksikon Islam, (Jakarta: Pustaka Azet, 1988), jilid 1, cet ke-1.
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dasuki, Hafidz,  Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ictiar Van Hoeve, 1994),  jilid 1.
Aziz , Abdul, Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam,
                 (Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, 1997), jilid 1.
Description: Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat

Materi Belajar Hisab: Kajian Ruang Lingkup Ilmu Falak

Ruang Lingkup Ilmu Hisab Falak
Ilmu Falak (Foto: Galaxy)
Ruang lingkup Ilmu Falak itu hanya berada pada dua spektrum :

1. Hisab
Hisab adalah suatu pengetahuan yang mengkaji tentang seluk beluk perhitungan, hisab itu sendiri artinya berhitung. Ilmu Falak dan Ilmu Faraidh di lingkaran umat islam dikenal pula dengan nama “hisab”, sebab kegiatan yang dominan pada kedua ilmu tersebut yang dieksplorasi dan dipergunakan oleh umat islam dalam penerapan ibadah adalah melakukan perhitungan-perhitungan.

Di Indonesia biasanya orang hanya mengetahui bahwa ilmu falaklah yang dimaksud dengan Ilmu Hisab. Ilmu Hisab modern dalam penerapannya banyak orang yang mengimplementasikan ilmu matematika, seperti ilmu tiga bola dalam menetapkan arah kiblat. Namun perlu dipahami bahwa, ilmu hisab hanya memberikan hasil perhitungan dalam soal waktu dan tempat saja. Dalam soal posisi hilal awal bulan, ilmu hisab tidak menyebutkan posisi hilal pada tempat tertentu pasti kelihatan. Tampak atau tidaknya itu tergantung hasil rukyah pada waktunya.

2. Rukyat
Rukyat ialah melihat hilal ketika matahari terbenam 29 bulan Qamariyah, jika berhasil melihat hilal, maka mulai terbenamnya matahari tersebut, sudah dihitung bulan baru, jika tidak tampak, maka malam itu dan esok harinya akhir bulan Qamariyah, jadi bulan tersebut berusia 30 hari. Sukses tidaknya rukyat hilal tergantung pada kondisi ufuk barat, tempat peninjau, posisi hilal itu sendiri, dan ketelitian mata orang yang memantau.

Dari pengalaman yang pernah dilaksanakan, biasanya orang yang dapat memprediksi terlihat atu tidaknya hilal bulan baru tersebut, itupun tidak menjadi sandaran. Hal ini dikarenakan oleh sebab tipisnya struktur hilal serta rupanya yang menyerupai awan yang menjadi latar belakangnya. Hilal sangat sukar diobservasi oleh orang-orang yang pandangan matanya kurang tajam

Baca juga:
1. Pengertian Ilmu Falak
2. Hisab dan Rukyat
3. Manfaat Ilmu Falak

Pustaka:
Rafni, Ilmu Falaq I, (Padang: Hayfa Press, 2010), cet .ke-1.
Ba’albaki, Munir ,Al-Mawarid Modern English Arabic Dictionary,
                (Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1970), Cet.Ke-3, H.
Tim Penyusun Pustaka, leksikon Islam, (Jakarta: Pustaka Azet, 1988), jilid 1, cet ke-1.
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dasuki, Hafidz,  Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ictiar Van Hoeve, 1994),  jilid 1.
Aziz , Abdul, Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam,
                 (Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, 1997), jilid 1.
Description: Materi Belajar Hisab: Kajian Ruang Lingkup Ilmu Falak Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Materi Belajar Hisab: Kajian Ruang Lingkup Ilmu Falak

Peta Definisi: Pengertian Ilmu Falak

Pengertian Ilmu Falak Nujum Hisab Astonomi
Tata surya (Foto: Galaxy)
Interpretasi Ilmu Falak - Secara etimologis kata falak/falaq di dalam kamus lisan Al-arabiy dimaknai sebagai madaarun-nujuum (مدار النجوم) yang berarti orbit (bahasa inggris) dan di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan sebagai lingkaran cakrawala atau langit. Kata falak diterangkan oleh Al-Qur’an sebanyak dua kali,
Al-Anbiya ayat 33 :

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Artinya : ”Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”.

Dan surat Yasin ayat 40:

وَ لَا الشَّمْسُ يَنْبَغِي لَهَا أَنْ تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ
Artinya : “Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.

Secara terminologi dapat dijelaskan beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Dairatu Ma’rif al-Qarn al-Isyrin
    Ilmu falaq ialah ilmu mengenai orbit (lintasan) benda-benda langit, matahari, bulan bintang
    dan planet-planetnya.
2. Leksikon Islam
    Ilmu falak ialah ilmu perbintangan (astronomi) merupakan wawasan mengenai kondisi
    bintang-bintang di langit.
3. Kamus Besar Bahasa Indonesia
    Ilmu falak ialah ilmu pengetahuan tentang kondisi (peredaran, perhitungan, bintang-bintang
    dan sebagainya).
4. Enksiklopedi Islam
    Ilmu falak ialah suatu ilmu yang menelaah benda-benda langit, matahari, bulan, bintang dan
    planet-planetnya.
5. Ensiklopedi Hukum Islam
    Ilmu falak ialah ilmu pengetahuan yang mengkaji benda-benda langit, tentang fisiknya, geraknya,
    ukurannya dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya.
6. Almanak Hisab Rukyat
    Ilmu falak ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari lintasan benda-benda langit, seperti matahari,
    bulan, bintang-bintang langit lainnya untuk tujuan guna mengetahui letak dari benda-benda langit itu
    serta kedudukannya dari benda-benda langit yang lain.

Ilmu Falak sama dengan dengan ilmu Hisab, Miqat, Rasd dan Hai’ah. Bahkan sering pula disebut Astronomi. Studi Ilmu Falak tujuannya terutama untuk :
a) Membantu mengoptimalkan presisi (ketepatan) penentuan posisi atau arah kiblat secara tepat dari
    berbagai penjuru umat islam yang berdomisili jauh dari Mekah,
b) Memastikan waktu-waktu shalat,
c) Menetapkan awal bulan hijriah,
d) Menentukan gerhana.

Dari ikhtisar di atas dapat disimpulkan bahwa ilmu falak merupakan ilmu pengetahuan yang membahas benda-benda langit, yang berkaitan dengan fisiknya, geraknya, lintasannya, ukurannya serta segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

Baca juga:
1. Ruang Lingkup Ilmu Falak
2. Hisab dan Rukyat
3. Manfaat Ilmu Falak

Pustaka:
Rafni, Ilmu Falaq I, (Padang: Hayfa Press, 2010), cet .ke-1.
Ba’albaki, Munir ,Al-Mawarid Modern English Arabic Dictionary,
                (Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1970), Cet.Ke-3, H.
Tim Penyusun Pustaka, leksikon Islam, (Jakarta: Pustaka Azet, 1988), jilid 1, cet ke-1.
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dasuki, Hafidz,  Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ictiar Van Hoeve, 1994),  jilid 1.
Aziz , Abdul, Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam,
                 (Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, 1997), jilid 1.
Description: Peta Definisi: Pengertian Ilmu Falak Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Peta Definisi: Pengertian Ilmu Falak

Metode Memandikan Jenazah, Cara dan Syariat Islam

1. Persiapan Sebelum Memandikan Jenazah
    Sebelum Memandikan jenazah, Terlebih dahulu harus melakukan beberapa persiapan, adapun
    hal-hal yang penting dipersiapkan sebelum memandikan ialah:
    a. Masker dan kaos tangan guna memandikan jenazah supaya terhindar dari kuman jika
        si jenazah mempunyai penyakit,
    b. Sabun atau bahan lainnya guna membersihkan tubuh jenazah,
    c. Sampo untuk mengeramasi rambut jenazah supaya bersih dari kuman dan kotoran,
    d. Air secukupnya dalam proses memandikan. Boleh memakai air yang dialiri oleh selang,
        diperbolehkan juga menyediakan air sebanyak tiga ember besar.
    e. Meja besar atau dipan yang cukup dan kuat serta tahan oleh air guna tempat meletakkan jenazah
        ketika dimandikan,
    f.  Handuk untuk mengeringkan tubuh dan rambut si jenazah,
    g. Kapas, kapur barus, daun bidara, atau wewangian yang lain serta bedak.
    h. Disediakan kain kafan sesuai gender (pria atau wanita).

2. Mekanisme dan Tata Cara Memandikan Jenazah
   a. Menempatkan jenazah di atas dipan atau meja, upayakan posisi kepala lebih tinggi dari kaki
   b. Tempat jenazah mesti tertutup, baik dinding ataupun atapnya supaya aurat dan cela jenazah
       tidak terlihat.
   c. Menutup aurat jenazah menggunakan handuk besar dan kain. Untuk jenazah putra dari pusar
       sampai dengan lutut, sementara untuk jenazah perempuan dari dada sampai dengan mata kaki.
   d. Bersihkan kotoran dengan cara mengangkat pundak dan kepala sembari menekan perut dan dada,
   e. Memiringkan ke kanan dan ke kiri sembari menekan dengan memakai sarung tangan atau
       kain perca, kemudian disirami berkali-kali supaya kotoran hilang,
   f.  Basuhlah jenazah layaknya cara berwudhu,
   g. Sirami air dari yang sebelah kanan anggota wudhu dengan bilangan ganjil memakai air
       dan daun bidara, kemudian semua tubuh jenazah diberi sabun terutama pada lipatan-lipatan yang ada.
   h. Bersihkan tubuhnya dengan air dan miringkan ke kanan serta ke kiri,
   i.  Saat memandikan, aurat jenazah mesti senantiasa tidak terlihat,
   j.  Setelah itu, rambut jenazah dikeramasi dan disiram agar bersih. Dan jika jenazahnya
       adalah wanita, rambutnya dikeringkan, setelah itu dikepang menjadi tiga.
   k. Siraman terakhir memakai kapur barus, kemudian miringkan ke kanan, ke kiri supaya air
       dapat keluar dari mulut dan lubang yang lainnya.
   l.  Bersihkan semua najis yang ada di badannya, terutama pada kemaluan, setelah itu meratakan
       air keseluruh tubuh atau sebaiknya tiga kali dengan memakai air yang bersih, air sabun dan
       air yang sudah dicampuri kapur barus. Jika sudah selesai keseluruhnya yang terakhir adalah
       jenazah di wudhukan.
  m. Jika sudah selesai, badannya dikeringkan dengan menggunakan handuk, kemudian ditutup
       dengan kain yang sudah kering supaya auratnya tetap tertutup.

Tiap jenazah muslim wajib dimandikan tiga kali. Pertama menggunakan air yang sedikit dicampuri kapur dan bidara; kedua memakai air yang sudah dicampur sedikit kapur melainkan yang wafat dalam keadaan ihram, maka tidak diperbolehkan dicampur dengan kapur; ketiga memakai air murni tanpa dicampur apapun. Daun bidara dan kapur yang dicampur dengan air itu tidak terlalu banyak, karena dikhawatirkan air tersebut menjadi air mudhaf, sehingga tidak dapat menyucikan. Antara tiga kali dalam mandi tersebut, diwajibkan pula untuk tertib antara anggota tubuh yang tiga, yaitu dimulai dari kepala berikut leher, lalu anggota tubuh yang kanan, dan ketiga anggota tubuh yang kiri.

Baca juga:
Penggolongan Memandikan Jenazah
Tata Cara Memandikan Mayit atau Jenazah dalam Islam
Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah
Description: Metode Memandikan Jenazah, Cara dan Syariat Islam Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Metode Memandikan Jenazah, Cara dan Syariat Islam

Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah

Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah atau Mayit - Tidak semua orang berwenang dalam memandikan jenazah, hal ini ditujukan guna menjaga kerahasian aib atau cacat penyakit yang masih ada di dalam tubuh jenazah tersebut. Manfaatnya menjaga dan menggarisi bagi orang yang ingin memandikan jenazah supaya tidak adanya fitnah yang dapat memalukan keluarga jenazah. Adapun orang yang berwenang memandikan jenazah ialah:
1. Jika mayatnya laki-laki, yang memandikannya juga laki-laki pula. Bagi perempuan tidak diperbolehkan
    memandikan mayat yang laki-laki, melainkan istri atau muhrimnya. Apabila mayat perempuan, juga
    dimandikan oleh permpuan pula dan laki-laki tidak diperbolehkan memandikan mayat yang perempuan,
    melainkan sebagai muhrim atau suaminya,
2. Orang yang berwenang memandikan jenazah ialah orang yang sudah ditetapkan oleh si mayit ketika
    sebelum ia meninggal (berdasarkan wasiatnya),
3. Kemudian bapaknya, karena ia tentu lebih paham mengenali si mayit daripada anak si mayit tersebut.
    Setelah itu keluarga terdekat si mayit,
4. Jenazah wanita dimandikan oleh penerima wasiatnya. Lantas ibunya, kemudian anak perempuannya,
   dan keluarga terdekat,
5. Seorang suami diperbolehkan memandikan mayit istrinya berlandaskan sabda Nabi Muhammad
    صلى الله عليه و سلم kepada’Aisyah Radhiallahu ‘Anha: “Tentu tidak ada yang membuatmu gundah,
   sebab jika kamu wafat sebelumku, akulah yang memandikan jenazahmu”.

Baca juga:
Langkah-langkah Cara Memandikan Jenazah
Cara Mengurus Jenazah Sebelum Dimandikan
Penggolongan Memandikan Jenazah
Description: Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Orang Yang Berhak Memandikan Jenazah

Penggolongan Memandikan Jenazah

Beberapa Penggolongan dalam Memandikan Jenazah - Penggolongan ini bermaksud untuk memberikan perbedaan dalam memandikan jenazah. Hal ini dikarenakan bahwa tidak semua jenazah yang dapat atau mesti dimandikan. Berikut 2 bentuk hal yang perlu untuk dipahami dan diperhatikan dalam memandikan jenazah:
a. Jenazah yang boleh dimandikan
    Jenazah yang wajib dimandikan ialah orang Islam dan orang yang wafat tidak disebabkan
    mati syahid (Medan pertempuran)
b. Jenazah yang tidak perlu dimandikan
    Jenazah yang tidak boleh dimandikan ialah jenazah dalam keadaan mati syahid di medan
    pertempuran, sebab tiap luka atau setetes darah akan harum dengan bau wangi pada hari Kiamat.

Jenazah orang kafir tidak wajib dimandikan. Ini pernah dilakukan Nabi Muhammad صلى الله عليه و سلم terhadap paman beliau yang kafir. Juga berlandaskan firman Allah SWT:
Dan janganlah sekali-kali kamu menyalatkan jenazah salah seorang yang mati diantara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya.”

Kemudian, janin yang di bawah umur empat bulan tidak perlu untuk dimandikan, dikafani, dan dishalatkan. Cukup menggali lubang, kemudian dikebumikan.

Baca juga:
Orang yang Berhak Memandikan Jenazah
Tata Cara Memandikan Jenazah
Persiapan Sebelum Memandikan Jenazah
Description: Penggolongan Memandikan Jenazah Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Penggolongan Memandikan Jenazah
 

Selamat Datang

Selamat datang di "Walman.org", kumpulan informasi edukatif, inspiratif dan informatif. Ragam info bermanfaat dan terbaru yang unik menarik, pusat download gratis dan lain lain, Selengkapnya tentang Saya

Sepintas Tentang Saya :

Nama saya Walman, mahasiswa di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, jurusan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Blog sederhana ini media aplikasi menulis sebagai penyalur hobi, mempererat silaturahmi dan berbagi informasi.

Info