Description: Gratis Ebook: Lembaran-lembaran Sejarah Minangkabau
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Gratis Ebook: Lembaran-lembaran Sejarah Minangkabau
Home » Posts filed under Sejarah
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
4/15/2013
Gratis Ebook, Telusur Sejarah Minangkabau 'Dulu dan Kini'
Description: Gratis Ebook, Telusur Sejarah Minangkabau 'Dulu dan Kini'
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Gratis Ebook, Telusur Sejarah Minangkabau 'Dulu dan Kini'
4/06/2013
Filologi ialah disiplin ilmu yang membicarakan tentang naskah-naskah kuno dan guna meneliti naskah-naskah tersebut. Filologi memerlukan ilmu-ilmu bantu yang erat hubungannya dengan bahasa dan beberapa ilmu pendukung baik dari ilmu sosial sampai agama.
1. Ilmu Linguistik
Linguistik ialah ilmu mengenai bahasa; riset bahasa secara ilmiah yang hadir pertama kali pada tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johan Severin Vater dan Friedrich Justin Bertuch (Kridalaksana. 2011:114). Sementara kaitan antara filologi dan linguistik terefleksi dari objek pembahasannya, bahasa. Bilamana filologi melacak makna dari suatu teks yang pada hakekatnya adalah bahasa, maka filologi memerlukan linguistik sebagai cara untuk memaknai bahasa masa silam dengan berbagai keunikannya.
Setelah itu, ada beberapa bagian linguistik yang diyakini dapat kondusif terhadap filologi dalam pembahasan naskah. Pertama, etimologi yang berguna untuk menggali asal muasal sejarah kata. Kedua, sosiolinguistik ialah bagian linguistik yang membahas koneksi antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Ketiga, yaitu stilistika ialah ilmu yang menyoroti gaya pada bahasa sastra, dengan ini filologi akan terbantu guna memahami umur teks tersebut.
2. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks.
Dalam bagian ini, seorang filolog harus dapat menguasai atau memahami bahasa-bahasa yang sering termuat dalam naskah kuno yang dapat mempengaruhi suatu teks. Umpama dalam sebuah naskah kuno dalam ranah Nusantara yang banyak dimotivasi oleh bahasa asing. Terutama ialah bahasa Sansekerta dan Arab. Kedua bahasa ini akan memuluskan seorang filolog untuk menjelaskan makna suatu naskah nusantara.
Umpama bahasa Sanskerta yang banyak ditemui dalam naskah cerita fantasi atau berupa epik Ramayana, mahabarata, dan Sang Hyang Kamahayanikan. Sementara dalam kaedah bahasa arab akan ditemui karya dalam melayu kuno berupa karangan Abdurauf Asssingkeli, Hamzah Fanzuri, Nuruddin Arraniri, dan lain-lain. Dalam karya ini, mereka memakai bahasa Arab yang menjelaskan banyak hal tentang agama Islam yang mempunyai bentuk tanpa syakal atau berharokat.
3. Paleografi
Dari beberapa ilmu pendukung dalam kajian filologi, paleografi ialah ilmu yang wajib dipunyai oleh seorang filolog disebabkan ilmu ini mengkaji tentang tulisan-tulisan kuno. Sementara hubungan antara keduanya ialah pembahasan tentang penjabaran tulisan-tulisan kuno baik dalam prasasti, batu ataupun logam. Lebih lanjut, paleografi akan memudahkan dalam menetapkan waktu dan tempat peristiwa tulisan tersebut. Hal ini sangat perlu, sebab indikator-indikator yang hadir dari tulisan tersebut akan memberi titik terang menenai siapa pengarang tulisan tersebut. Selain itu, hal yang tidak boleh dilewatkan ialah observasi anatomi dari tulisan itu sendiri seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan jarak baris dalam tulisan.
Dalam sejarah Asia tenggara, terdapat tulisan kuno yang dikembangkan di Nusantara dulu. Tulisan itu ialah tulisan yang disebut Palawa. Tulisan ini terbagi menjadi 2 ciri, palawa awal dan palawa lanjut. Palawa awal memperlihatkan adanya pengaruh dari India Selatan dan Sri Langka di abad ke-3 hingga abad ke-5. Sementara palawa lanjut, diawali pada abad ke-7 dan 8.
4. Ilmu Sastra
Dalam peradaban nusantara banyak sekali karya fantasi yang mengacu pada karya sastra. Karya sastra ini lebih dikontol dengan karya yang berjenis jenaka atau pelipur lara. Selain itu, ada juga kisah pewayangan yang menggambarkan cerita kehidupan manusia yang tercermin dari substansi agama Islam. Tentunya, itu seluruhnya memerlukan pendekataan yang signifikan demi memahami secara pasti makna dari kisah-kisah tersebut.
Untuk itu, pendekatan yang dirasa baik dan tepat ialah 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang diyakini oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendekatan intrinsik.
a. Pendekatan Mimeti
Suatu pendekatan yang lebih memprioritaskan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra,
hubungannya dengan dunia nyata.
b. Pendekatan pragmatik
Pendekatan yang memprioritaskan respon atau pengaruh suatu teks kepada pembaca atau
pendengar.
c. Pendekatan ekspresif
Suatu pendekatan yang fokus terhadap penulis karya sastra sebagai penciptanya yang memiliki
banyak arti di dalam karyanya, terutama pada ekspresi dan emosi pengarang.
d. Pendekatan objektif
Pendekatan yang membahas naskah tersebut tanpa melihat latar belakang (asal muasal)
naskah tersebut. Namun, para sastrawan modern memperoleh suatu pendekatan yang disebut
pendekatan represif. Pendekatan ini lebih menitikberatkan seberapa besar respons pembaca
terhadap karya yang ada.
5. Ilmu Agama
Selain ilmu sastra atau linguistik yang dibutuhkan dalam memahami sebuah teks, seorang filolog pula harus paham seluk-beluk mengenai agama yang ada di nusantara. Seperti Hindu, Budha dan Islam. Mengingat ketiga agama ini banyak pengaruh terhadap budaya nusantara. Di dalam ilmu bantu yang satu ini diharapkan seorang filolog dapat mengkoneksikan relevansi antara pengaruh agama dalam sebuah naskah seperti yang termuat dalam naskah Brahmadapura sebagai kitab panutan pemeluk agama Hindu.
Lebih lanjut, Dari sejumlah 5.000 naskah Melayu yang telah sukses ditulis oleh Ismail Hussein dari perpustakaan dan museum berbagai Negara yang terdiri dari 800 judul, 300 judul diantaranya seperti karya-karya dalam bidang ketuhanan (Baried, 1994:23). Dalam penjelasan ini melambangkan bahwa ilmu mengenai agama mempunyai peran penting dalam pembahasan filologi yang nantinya dapat memberikan peran serta terhadap pengkajian isi dari suatu naskah.
6. Sejarah Kebudayaan
Penguasaan Sejarah Negara bagi seorang filolog akan kontributif dalam mengkaji sejarah dan kebudayaan yang telah ada secara runtut dan monumental. Melalui sejarah kebudayaan, kita dapat memahami seberapa jauh kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada waktu itu. Hal ini, sangat berbanding lurus dengan seberapa cerdasnya karya yang mereka hadirkan.
7. Antropologi
Secara singkat dijelaskan bahwa antropologi adalah penyidikan terhadap manusia dan kehidupannya (Partanto, 2001:44). Dari definisi yang ada, maka dapat dihubungkan dengan filologi bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari adanya kebudayaan dan filologi membahas salah satu budaya dari manusia yang bersifat naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menitikberatkan observasi bagaimana manusia menyikapi naskah yang telah ada dari zaman dahulu hingga sekarang. (*)
Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain
![]() |
| Naskah (Foto: ilustration) |
1. Ilmu Linguistik
Linguistik ialah ilmu mengenai bahasa; riset bahasa secara ilmiah yang hadir pertama kali pada tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johan Severin Vater dan Friedrich Justin Bertuch (Kridalaksana. 2011:114). Sementara kaitan antara filologi dan linguistik terefleksi dari objek pembahasannya, bahasa. Bilamana filologi melacak makna dari suatu teks yang pada hakekatnya adalah bahasa, maka filologi memerlukan linguistik sebagai cara untuk memaknai bahasa masa silam dengan berbagai keunikannya.
Setelah itu, ada beberapa bagian linguistik yang diyakini dapat kondusif terhadap filologi dalam pembahasan naskah. Pertama, etimologi yang berguna untuk menggali asal muasal sejarah kata. Kedua, sosiolinguistik ialah bagian linguistik yang membahas koneksi antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Ketiga, yaitu stilistika ialah ilmu yang menyoroti gaya pada bahasa sastra, dengan ini filologi akan terbantu guna memahami umur teks tersebut.
2. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks.
Dalam bagian ini, seorang filolog harus dapat menguasai atau memahami bahasa-bahasa yang sering termuat dalam naskah kuno yang dapat mempengaruhi suatu teks. Umpama dalam sebuah naskah kuno dalam ranah Nusantara yang banyak dimotivasi oleh bahasa asing. Terutama ialah bahasa Sansekerta dan Arab. Kedua bahasa ini akan memuluskan seorang filolog untuk menjelaskan makna suatu naskah nusantara.
Umpama bahasa Sanskerta yang banyak ditemui dalam naskah cerita fantasi atau berupa epik Ramayana, mahabarata, dan Sang Hyang Kamahayanikan. Sementara dalam kaedah bahasa arab akan ditemui karya dalam melayu kuno berupa karangan Abdurauf Asssingkeli, Hamzah Fanzuri, Nuruddin Arraniri, dan lain-lain. Dalam karya ini, mereka memakai bahasa Arab yang menjelaskan banyak hal tentang agama Islam yang mempunyai bentuk tanpa syakal atau berharokat.
3. Paleografi
Dari beberapa ilmu pendukung dalam kajian filologi, paleografi ialah ilmu yang wajib dipunyai oleh seorang filolog disebabkan ilmu ini mengkaji tentang tulisan-tulisan kuno. Sementara hubungan antara keduanya ialah pembahasan tentang penjabaran tulisan-tulisan kuno baik dalam prasasti, batu ataupun logam. Lebih lanjut, paleografi akan memudahkan dalam menetapkan waktu dan tempat peristiwa tulisan tersebut. Hal ini sangat perlu, sebab indikator-indikator yang hadir dari tulisan tersebut akan memberi titik terang menenai siapa pengarang tulisan tersebut. Selain itu, hal yang tidak boleh dilewatkan ialah observasi anatomi dari tulisan itu sendiri seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan jarak baris dalam tulisan.
Dalam sejarah Asia tenggara, terdapat tulisan kuno yang dikembangkan di Nusantara dulu. Tulisan itu ialah tulisan yang disebut Palawa. Tulisan ini terbagi menjadi 2 ciri, palawa awal dan palawa lanjut. Palawa awal memperlihatkan adanya pengaruh dari India Selatan dan Sri Langka di abad ke-3 hingga abad ke-5. Sementara palawa lanjut, diawali pada abad ke-7 dan 8.
4. Ilmu Sastra
Dalam peradaban nusantara banyak sekali karya fantasi yang mengacu pada karya sastra. Karya sastra ini lebih dikontol dengan karya yang berjenis jenaka atau pelipur lara. Selain itu, ada juga kisah pewayangan yang menggambarkan cerita kehidupan manusia yang tercermin dari substansi agama Islam. Tentunya, itu seluruhnya memerlukan pendekataan yang signifikan demi memahami secara pasti makna dari kisah-kisah tersebut.
Untuk itu, pendekatan yang dirasa baik dan tepat ialah 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang diyakini oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendekatan intrinsik.
a. Pendekatan Mimeti
Suatu pendekatan yang lebih memprioritaskan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra,
hubungannya dengan dunia nyata.
b. Pendekatan pragmatik
Pendekatan yang memprioritaskan respon atau pengaruh suatu teks kepada pembaca atau
pendengar.
c. Pendekatan ekspresif
Suatu pendekatan yang fokus terhadap penulis karya sastra sebagai penciptanya yang memiliki
banyak arti di dalam karyanya, terutama pada ekspresi dan emosi pengarang.
d. Pendekatan objektif
Pendekatan yang membahas naskah tersebut tanpa melihat latar belakang (asal muasal)
naskah tersebut. Namun, para sastrawan modern memperoleh suatu pendekatan yang disebut
pendekatan represif. Pendekatan ini lebih menitikberatkan seberapa besar respons pembaca
terhadap karya yang ada.
5. Ilmu Agama
Selain ilmu sastra atau linguistik yang dibutuhkan dalam memahami sebuah teks, seorang filolog pula harus paham seluk-beluk mengenai agama yang ada di nusantara. Seperti Hindu, Budha dan Islam. Mengingat ketiga agama ini banyak pengaruh terhadap budaya nusantara. Di dalam ilmu bantu yang satu ini diharapkan seorang filolog dapat mengkoneksikan relevansi antara pengaruh agama dalam sebuah naskah seperti yang termuat dalam naskah Brahmadapura sebagai kitab panutan pemeluk agama Hindu.
Lebih lanjut, Dari sejumlah 5.000 naskah Melayu yang telah sukses ditulis oleh Ismail Hussein dari perpustakaan dan museum berbagai Negara yang terdiri dari 800 judul, 300 judul diantaranya seperti karya-karya dalam bidang ketuhanan (Baried, 1994:23). Dalam penjelasan ini melambangkan bahwa ilmu mengenai agama mempunyai peran penting dalam pembahasan filologi yang nantinya dapat memberikan peran serta terhadap pengkajian isi dari suatu naskah.
6. Sejarah Kebudayaan
Penguasaan Sejarah Negara bagi seorang filolog akan kontributif dalam mengkaji sejarah dan kebudayaan yang telah ada secara runtut dan monumental. Melalui sejarah kebudayaan, kita dapat memahami seberapa jauh kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada waktu itu. Hal ini, sangat berbanding lurus dengan seberapa cerdasnya karya yang mereka hadirkan.
7. Antropologi
Secara singkat dijelaskan bahwa antropologi adalah penyidikan terhadap manusia dan kehidupannya (Partanto, 2001:44). Dari definisi yang ada, maka dapat dihubungkan dengan filologi bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari adanya kebudayaan dan filologi membahas salah satu budaya dari manusia yang bersifat naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menitikberatkan observasi bagaimana manusia menyikapi naskah yang telah ada dari zaman dahulu hingga sekarang. (*)
Description: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain
3/31/2013
Padang - Menelusuri pedalaman hutan rimbun alas setapak di tanah sumatera, menyajikan sebuah catatan berbau cerita antropolog menarik yang terselubung. Data “Orang-orang pendek” sedikit kabua-kabua tarang (Minang: bayang-bayang) bagi masyarakat sekitar dan para peneliti, walaupun masih berupa teka-teki yang butuh justifikasi dari minimnya statistik akurasi dan ilmiah. Namun beberapa pembeberan akan cukup mengasyikan dan menarik untuk disimak. Hal itu berakar pada jejak fisik maupun non-fisik hasil temuan para peneliti urang awak, orang asing, maupun masyarakat yang mengaku pernah melihatnya secara langsung.
Dilansir dari viva.co.id, Minggu (31/03/2013), ekspedisi selama dua pekan polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, melakukan patroli di area berluas 125 ribu hektar guna pemantauan hutan dari pembalakan dan perburuan liar. Dibeberapa titik, mereka yang terdiri dari 4 resor, satu regu patroli diantaranya, resor Rawa Bunder, Way Kanan, mengaku pernah melihat “Orang pendek” secara langsung, Minggu (17/03/2013). Menjelang malam, tujuh polisi itu sedang lelah dan istirahat, dari kejauh terlihat sekelompok makhluk berbentuk manusia, sedikit berbulu, seperti kera, berjalan dengan kedua kaki sambil memegang tombak, bahkan ada juga yang sedang mengendong anak saat melintasi rawa. Mereka mirip manusia purba, tanpa memakai baju dan berambut gimbal memandangi petugas patroli tersebut dari jarak 30 meter. Diduga “Orang pendek” itu sedang mencari ikan atau mencari minum. Dengan sekejap, “Orang-orang pendek" itu masuk ke dalam rimbunan “semak belukar”.
Demi mengungkap rasa penasaran, tiga hari kemudian, grup petugas kehutanan itu mendatangi kembali ke lokasi yang sama. Diwaktu yang persis, berharap “Orang pendek” muncul kembali. Harapan mereka terjawab, “Orang-orang pendek” yang kini berjumlah lebih dari sepuluh terlihat lagi. Sontak, mereka mengabadikan segera menggunakan kamera, namun nihil, hilang di dalam rimbunan “semak blukar”. Hari itu juga mereka memasang 15 kamera inframerah yang aktif pada siang dan malam dengan sistem sensor gerak yang tajam dipasangkan pada tiap areal.
Fenomena ini bukan pertama kali, sebelumnya satu regu pendaki Gunung Singgalang juga melihat makhluk serupa. Sebut saja namanya Denni, anggota regu ini berkisah ketika mengarungi ketinggian gunung setinggi 2.887 meter. Ia pernah bertemu dengan “Orang pendek”. Pagi hari di area dataran pinggang gunung, regu itu kaget sekaligus takjub melihat sepasang monyet berjalan mengayun khas seperti manusia berjarak kira-kira 30 meter dari mereka. Kenangnya, selain wajah “Orang pendek” itu ditutupi bulu berwarna keemasan, berjalan tegak dan sedang berpegangan tangan. Walaupun posturnya seperti manusia, namun dengan bulu-bulu tipis bagian dinding tubuhnya tampak seperti monyet. Tinggi makhluk itu sekitar 1 meter tanpa ekor. Penampakan itu tergolong langka, dengan sigap Denni mengambil kamera disakunya untuk mengambil gambar. lagi-lagi reflek “Orang pendek” bergerak lebih cepat hilang dirimbunan pepohonan.
Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang juga pernah melihat “Orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, ia meragukan penampakan yang dilihat oleh polisi hutan Way Kambas adalah makhluk yang sama. “Orang-orang pendek” yang pernah dilihatnya digaris Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu bersifat individual, tidak berkelompok lebih dari tiga orang. Pemimpin Tim Fauna dan Flora International’s Tiger Protection and Conservation Units ini menjelaskan, umumnya “Orang pendek” bersifat soliter dan ia belum pernah melihat secara bergerombolan hingga belasan.
Perkenalannya dengan “Orang pendek” dimulai tahun 1989. Kesibukkan perkerjaan sebagai jurnalis disalah satu media Inggris membawanya berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan. Berita burung yang ia dapat dari masyarakat memacu adrenalinnya untuk meneliti keabsahan “Orang-orang pendek”. Pada tahun 1994, Debbie, begitu panggilannya bersama Jeremy Holden tim Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan eksplorasi komprehensif mengenai “Orang-orang pendek”.
Debbie pertama kali melihat “Orang pendek” tahun 1994 di areal Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci. Perjalanan berikutnya, tahun 1995 di Solok Selatan. Tahun itu juga ia menyaksikan kembali keberadaan “Orang pendek” di kawasan hutan lindung perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Terakhir, Debbie menyaksikan mereka kembali di sebuah hutan produksi Muko-muko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
Uraian panjang perjalanan, tak satupun yang berhasil memotretnya secara langsung, bahkan kamera canggih yang biasa memotret reflek harimau sumatera tidak berkomentar. Saat ini penelitiannya merujuk pada pandangan jejak dan saksi mata. Dari hasil pantauan, mereka bertubuh agak besar dengan tinggi 130 cm. Warna kulitnya madu tua, dan bulu di kepala sedikit tebal.
Achmad Yanuar yang menuntaskan gelar magisternya di Universitas Cambridge, Inggris, juga pernah mengalami hal yang sama. Hanya bisa melihat, namun tak bisa mengabadikan gambar. Sebelum Debbie, ia lebih dulu menyaksikan “Orang pendek” di Lampung tahun 1993 yang dimuat pada laporan Project Orang Pendek. Jelasnya, mereka berbulu kecoklatan, berjalan dengan kedua kaki dan mengayunkan tangan layaknya manusia.
Dari hasil menifestasi yang nihil “jepretan”, para peneliti sudah berhasil mengabadikan jejak-jejak spesimen seperti rambut, feses, jejak telapak kaki dan bentuk pola pemukimannya. Teori ‘puzzel’ ini cukup sebagai rantai spektator demi menguak informasi lebih cermat lagi mengenai keberadaan “Orang-orang pendek”. Apakah “Orang pendek” segolong manusia atau sebangsa kera yang belum terdata, namun logat bergaya manusia dan lebih dekat kepada struktur DNA manusia, sampai saat ini masih banyak menuai tanda tanya. (wal)
Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas
![]() |
| Orang Pendek (Foto: ilustration) |
Dilansir dari viva.co.id, Minggu (31/03/2013), ekspedisi selama dua pekan polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, melakukan patroli di area berluas 125 ribu hektar guna pemantauan hutan dari pembalakan dan perburuan liar. Dibeberapa titik, mereka yang terdiri dari 4 resor, satu regu patroli diantaranya, resor Rawa Bunder, Way Kanan, mengaku pernah melihat “Orang pendek” secara langsung, Minggu (17/03/2013). Menjelang malam, tujuh polisi itu sedang lelah dan istirahat, dari kejauh terlihat sekelompok makhluk berbentuk manusia, sedikit berbulu, seperti kera, berjalan dengan kedua kaki sambil memegang tombak, bahkan ada juga yang sedang mengendong anak saat melintasi rawa. Mereka mirip manusia purba, tanpa memakai baju dan berambut gimbal memandangi petugas patroli tersebut dari jarak 30 meter. Diduga “Orang pendek” itu sedang mencari ikan atau mencari minum. Dengan sekejap, “Orang-orang pendek" itu masuk ke dalam rimbunan “semak belukar”.
Demi mengungkap rasa penasaran, tiga hari kemudian, grup petugas kehutanan itu mendatangi kembali ke lokasi yang sama. Diwaktu yang persis, berharap “Orang pendek” muncul kembali. Harapan mereka terjawab, “Orang-orang pendek” yang kini berjumlah lebih dari sepuluh terlihat lagi. Sontak, mereka mengabadikan segera menggunakan kamera, namun nihil, hilang di dalam rimbunan “semak blukar”. Hari itu juga mereka memasang 15 kamera inframerah yang aktif pada siang dan malam dengan sistem sensor gerak yang tajam dipasangkan pada tiap areal.
Fenomena ini bukan pertama kali, sebelumnya satu regu pendaki Gunung Singgalang juga melihat makhluk serupa. Sebut saja namanya Denni, anggota regu ini berkisah ketika mengarungi ketinggian gunung setinggi 2.887 meter. Ia pernah bertemu dengan “Orang pendek”. Pagi hari di area dataran pinggang gunung, regu itu kaget sekaligus takjub melihat sepasang monyet berjalan mengayun khas seperti manusia berjarak kira-kira 30 meter dari mereka. Kenangnya, selain wajah “Orang pendek” itu ditutupi bulu berwarna keemasan, berjalan tegak dan sedang berpegangan tangan. Walaupun posturnya seperti manusia, namun dengan bulu-bulu tipis bagian dinding tubuhnya tampak seperti monyet. Tinggi makhluk itu sekitar 1 meter tanpa ekor. Penampakan itu tergolong langka, dengan sigap Denni mengambil kamera disakunya untuk mengambil gambar. lagi-lagi reflek “Orang pendek” bergerak lebih cepat hilang dirimbunan pepohonan.
![]() |
| Taman Nasional Kerinci Seblat (Foto: National Geographic) |
Perkenalannya dengan “Orang pendek” dimulai tahun 1989. Kesibukkan perkerjaan sebagai jurnalis disalah satu media Inggris membawanya berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan. Berita burung yang ia dapat dari masyarakat memacu adrenalinnya untuk meneliti keabsahan “Orang-orang pendek”. Pada tahun 1994, Debbie, begitu panggilannya bersama Jeremy Holden tim Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan eksplorasi komprehensif mengenai “Orang-orang pendek”.
Debbie pertama kali melihat “Orang pendek” tahun 1994 di areal Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci. Perjalanan berikutnya, tahun 1995 di Solok Selatan. Tahun itu juga ia menyaksikan kembali keberadaan “Orang pendek” di kawasan hutan lindung perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Terakhir, Debbie menyaksikan mereka kembali di sebuah hutan produksi Muko-muko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.
![]() |
| Jejak Kaki Mungil (Foto: National Geographic) |
![]() |
| Jejak Kaki (Foto: National Geographic) |
Dari hasil menifestasi yang nihil “jepretan”, para peneliti sudah berhasil mengabadikan jejak-jejak spesimen seperti rambut, feses, jejak telapak kaki dan bentuk pola pemukimannya. Teori ‘puzzel’ ini cukup sebagai rantai spektator demi menguak informasi lebih cermat lagi mengenai keberadaan “Orang-orang pendek”. Apakah “Orang pendek” segolong manusia atau sebangsa kera yang belum terdata, namun logat bergaya manusia dan lebih dekat kepada struktur DNA manusia, sampai saat ini masih banyak menuai tanda tanya. (wal)
Description: Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas
3/23/2013
Download Ebook Gratis: Pendekatan Sejarah Lokal
Description: Download Ebook Gratis: Pendekatan Sejarah Lokal
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Download Ebook Gratis: Pendekatan Sejarah Lokal
3/20/2013
Sebuah kreasi baik sastra atau tidak berbentuk refleksi keintelektualan masyarakatnya. Objek inilah yang berusaha ditelaah oleh filologi dalam memahami setiap naskah kuno yang ada sebagai sasaran diagnosisnya. Hasil pembahasan ini, dapat juga dimanfaatkan guna mencermati adat istiadat masyarakat tempo dulu yang bisa diaplikasikan sebagai data peninjauan ilmu-ilmu lain. Dengan kata lain, filologi menyediakan beberapa data yang telah difilterisasi berdasarkan kandungan naskah itu sendiri dan mengategorikannya. Sementara beberapa ilmu yang menginisisasikan filologi sebagai ilmu bantu adalah ilmu sejarah, ilmu kebudayaan, ilmu agama, ilmu adat istiadat, dll.
a. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Linguistik
Guna eksplorasi linguistik dan kronik, hal ini sangat dibutuhkan bagi seorang juru linguistik membutuhkan suntingan teks lama dan bahasa dari teks lama tersebut juga diperlukan oleh Filologi, sebab dapat menggali dan menyelidiki serta membandingkan sistem bahasa tulis dengan bahasa sehari-hari.
b. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sastra
Terutama seperti pensuplaian suntingan naskah lama dari hasil penelitian teks yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan penataan sejarah sastra atau teori sastra. Hasil-hasil telaah terhadap teks-teks sastra lama akan sangat bermanfaat untuk mengklasifikasikan teori-teori ilmu sastra secara umum.
c. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah Kebudayaan
Filologi mengekspos khazanah warisan nenek moyang seperti: kepercayaan, adat istiadat, kesenian, dll. Termasuk juga beberapa elemen-elemen sekarang sudah punah (seperti: istilah-istilah bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang, dsb.)
d. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah
Naskah-naskah di bumi pertiwi diyakini berisi teks sejarah (contoh: Negarakertagama, Pararaton). Dapat digunakan sebagai rujukan sejarah jika sudah diuji berlandaskan sumber-sumber lain. Sebagai informasi gambaran kehidupan masyarakat yang jarang ditemui seperti: Serat wicarakeras yang memberikan kritikan tajam terhadap masyarakat Surakarta (lingkungan keraton).
e. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Hukum Adat
Terutama dalam penyediaan teks. Penulisannya baru dilaksanakan kemudian hari, jika dirasakan perlu kepastian peraturan hukum oleh raja atau setelah ada dampak dari barat. Contoh, Kitab Angger-angger; Praniti Raja, Surya Ngalam, Nawala Pradata, Angger Sadasa, dll.
f. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Dalam Historis Perkembangan Agama
Naskah-naskah jawa kuno dominan dikontrol oleh agama Budha dan Hindu. Hasil suntingan teks religi dan hasil analisis maknanya menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna.
h. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Filsafat
Teks-teks sastra banyak bermuatan nasihat dan adagium. Naskah-naskah yang berisi tasawuf bermuatan filsafat yang banyak, terutama Melayu dan Jawa.
Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain
![]() |
| Naskah kuno (Foto: java) |
a. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Linguistik
Guna eksplorasi linguistik dan kronik, hal ini sangat dibutuhkan bagi seorang juru linguistik membutuhkan suntingan teks lama dan bahasa dari teks lama tersebut juga diperlukan oleh Filologi, sebab dapat menggali dan menyelidiki serta membandingkan sistem bahasa tulis dengan bahasa sehari-hari.
b. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sastra
Terutama seperti pensuplaian suntingan naskah lama dari hasil penelitian teks yang mungkin dapat digunakan sebagai bahan penataan sejarah sastra atau teori sastra. Hasil-hasil telaah terhadap teks-teks sastra lama akan sangat bermanfaat untuk mengklasifikasikan teori-teori ilmu sastra secara umum.
c. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah Kebudayaan
Filologi mengekspos khazanah warisan nenek moyang seperti: kepercayaan, adat istiadat, kesenian, dll. Termasuk juga beberapa elemen-elemen sekarang sudah punah (seperti: istilah-istilah bidang musik, takaran, timbangan, ukuran, mata uang, dsb.)
d. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Sejarah
Naskah-naskah di bumi pertiwi diyakini berisi teks sejarah (contoh: Negarakertagama, Pararaton). Dapat digunakan sebagai rujukan sejarah jika sudah diuji berlandaskan sumber-sumber lain. Sebagai informasi gambaran kehidupan masyarakat yang jarang ditemui seperti: Serat wicarakeras yang memberikan kritikan tajam terhadap masyarakat Surakarta (lingkungan keraton).
e. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Hukum Adat
Terutama dalam penyediaan teks. Penulisannya baru dilaksanakan kemudian hari, jika dirasakan perlu kepastian peraturan hukum oleh raja atau setelah ada dampak dari barat. Contoh, Kitab Angger-angger; Praniti Raja, Surya Ngalam, Nawala Pradata, Angger Sadasa, dll.
f. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Dalam Historis Perkembangan Agama
Naskah-naskah jawa kuno dominan dikontrol oleh agama Budha dan Hindu. Hasil suntingan teks religi dan hasil analisis maknanya menjadi bahan penulisan perkembangan agama yang sangat berguna.
h. Filologi Sebagai Ilmu Bantu Ilmu Filsafat
Teks-teks sastra banyak bermuatan nasihat dan adagium. Naskah-naskah yang berisi tasawuf bermuatan filsafat yang banyak, terutama Melayu dan Jawa.
Description: Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Filologi Sebagai Ilmu Bantu, Kedudukan Pengetahuan Lain
3/17/2013
Download Ebook Gratis: Sejarah, Konsentrasi Asia Tenggara
Description: Download Ebook Gratis: Sejarah, Konsentrasi Asia Tenggara
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Download Ebook Gratis: Sejarah, Konsentrasi Asia Tenggara
Langganan:
Postingan (Atom)
| Enjoy, save your time | SEO (Search Engine Optimization) |
| Akses User Friendly | Download Super Cepat |
-
Pada awalnya internet sebagai keperluan militer yang dibentuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat pada tahun 1969 yang dipergunakan untuk menangani masalah apabila terjadi serangan nuklir dan guna ...
-
Windows 8 merupakan nama kode dalam bentuk versi selanjutnya dari Microsoft Windows, jajaran sistem operasi yang diterbitkan oleh Microsoft ...
-
Gratis download Ebook Tutorial Windows 8, gak ribet, dan cepet. Silahkan download sepuasnya di sini, semoga bermanfaat...
-
Sekarang Windows 8 telah dapat diorder dan dapat digunakan. Buat Anda yang ingin menginstal sistem operasi (OS) mutakhir saat ini (Windows 8) ...
-
Windows 8 sudah mengibarkan sayapnya di ranah PC (Personal Computer). Penyempurnaan versi sebelumya (Windows 7), dilakukan sejumlah ....
-
Windows 8 tidak mempunyai tombol “close”, tapi ini “no problem”. Suatu aplikasi ditangguhkan ketika Anda berpindah akses ke aplikasi ...
-
Blogger, CMS satu ini paling fenomenal banyak digunakan setelah Wordpress, Tumblr, Blogdetik, Kompasiana dan lain sebagainya. Blogger...
-
Pemantauan dan perkembangan suatu Web/Blog perlu diperlukan guna optimasi SEO (Search Engine Optimization). Google Webmaster Tools...
-
Sitemap berfungsi sebagai rujukan Search Engine melakukan crawling halaman website/blog. Hal itu diterapkan pada layanan raksasa mesin...
-
Ketika kesunyian melanda, hanya nada-nada semu bisu yang menyapa tiada gerak dan daya mendengarnya. Mata memutih melihat waktu yang tak kunjung ...
-
Kumpulan berita penting, panas, perlu dan seruu di era portal berita dunia maya, barometer berita terkini, klik seruu.com. berbagai informasi terkini ...
-
Ekskalasi sistem informasi ekstra jauh di depan. Kemudahan akses informasi laksana dunia yang berada digenggaman. Bukan hal baru lagi terma internet ...





.jpg)





