![]() |
| Hisab (Foto: Galaxy) |
Istilah hisab bersumber dari bahasa Arab yang berarti perhitungan. Sedangkan dalam Ilmu Falak, hisab itu ialah perhitungan pergeseran benda-benda langit untuk mengetahui kedudukan pada suatu saat yang diinginkan. Jika hisab dikhususkan implementasinya pada perhitungan waktu shalat ataupun perhitungan awal bulan, maka yang dimaksudkan di sini ialah memastikan posisi ataupun kedudukan bulan.
Karena hisab awal waktu yang diterapkan adalah waktu matahari, aktifitas hisab untuk menetapkan waktu selalu dihubungkan dengan kedudukan matahari yang diukur dengan kesatuan waktu yang disebut dengan Waktu Matahari Bertengahan. Waktu matahari bertengahan ini sebetulnya Waktu Matahari Hakiki yang dibuat rata, biasanya diselaraskan dengan waktu daerah, yakni waktu-waktu yang telah ditentukan bujurnya, sedangkan bagi tempat-tempat yang bujurnya disebelah barat bujur yang dijadikan pedoman ditambahkan dengan selisih bujur tersebut.
hasil dari perhitungan ini dinyatakan sebagai waktu daerah. Di samping masih diketahui waktu Internasional (Internasional Civil Time). Sebab yang dijadikan patokan waktu internasional adalah kota Greenwich, maka populerlah waktu Internasional dengan sebutan Greenwich Mean Time (GMT).
Sekiranya waktu ini dijadikan sebagai kriteria rujukan, maka tiap bujur di sebelah timur Greenwich dikurangi dengan selisih bujur lokasi itu dengan bujur Greenwich. Padahal untuk kota-kota yang bujurnya sebelah barat bujur Greenwich ditambahkan, sehingga dengan demikian didapatlah kesatuan waktu. Waktu inilah yang diaplikasikan untuk menetapkan kedudukan tempat suatu wilayah di atas permukaan bumi.
2. Rukyat
Rukyat adalah melihat hilal ketika matahari terbenam tanggal 29 bulan Qamariyah, Seandainya hilal berhasil dirukyat, maka sejak matahari terbenam tersebut sudah terhitung bulan baru, jika tidak terlihat, maka malam itu dan keesokan harinya masih merupakan bulan yang sedang berlanjut dalam arti bulan adalah 30 hari.
Keberhasilan rukyatul hilal tergantung pada situasi cuaca diufuk sebelah barat pos kita melakukan rukyat dan ketelitian mata si perukyat. Dari pengalaman yang sudah dilakukan, biasanya orang dapat memperhitungkan terlihat atau tidaknya bulan baru tersebut, namun inipun tidak berupa jaminan, hal ini dikarenakan tipisnya struktur hilal serta rupanya yang mirip dengan awan yang menjadi latar belakang hilal tersebut. Tapi umumnya umat islam di Indonesia sering sukses melakukan rukyat hilal teristimewa dalam penentuan awal Ramadhan dan awal Syawal.
Aktifitas merukyat dalam hal ini perlu mengamati hilal dibagian langit sebelah barat ketika menjelang bulan baru, oleh karena itu sebelum rukyat dilaksanakan perlu dilokalisir posisi hilal tersebut menurut perhitungan yang teliti yaitu:
a) Ditetapkan berapa tinggi hilal,
b) Ditetapkan berapa azimutnya,
c) Ditetapkan berapa miringnya falak bulan dari ekliptik.
Untuk dijadikan rujukan utama dalam langkah awal yang harus dilaksanakan adalah menghitung jam berapa tinggi matahari yang sama dengan tinggi bulan yang akan dirukyat, serta berapa azimutnya. Setelah itu disediakan dalam kertas kerja dengan sket pergeseran matahari dari detik kedetik melewati lintasan hari bulan tersebut dengan lintasan matahari, kemudian ditunggulah saat matahari terbenam. Setelah itu dengan theodolit dapat ditetapkan di mana lokasi hilal itu sesuai dengan sket yang telah dibuat. Akhirnya gerakan bulan dari menit ke menit dapat ditelusuri dengan mencermati lintasan hariannya yang sejajar dengan lintasan matahari, maka rukyat dikehendaki akan sukses.
Baca juga:
1. Ruang Lingkup Ilmu Falak
2. Pengertian Ilmu Falak
3. Manfaat Ilmu Falak
Pustaka:
Rafni, Ilmu Falaq I, (Padang: Hayfa Press, 2010), cet .ke-1.
Ba’albaki, Munir ,Al-Mawarid Modern English Arabic Dictionary,
(Beirut: Dar Al-Ilm Al-Malayin, 1970), Cet.Ke-3, H.
Tim Penyusun Pustaka, leksikon Islam, (Jakarta: Pustaka Azet, 1988), jilid 1, cet ke-1.
Departemen P dan K, Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dasuki, Hafidz, Ensiklopedi Islam, (Jakarta: Ictiar Van Hoeve, 1994), jilid 1.
Aziz , Abdul, Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam,
(Jakarta: Ictiar Baru Van Hoeve, 1997), jilid 1.
Description: Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Apa Perbedaan Hisab dan Rukyat





