Berita Terbaru :

Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas


Minggu, 31 Maret 2013

Orang Pendek
Orang Pendek (Foto: ilustration)
Padang - Menelusuri pedalaman hutan rimbun alas setapak di tanah sumatera, menyajikan sebuah catatan berbau cerita antropolog menarik yang terselubung. Data “Orang-orang pendek” sedikit kabua-kabua tarang (Minang: bayang-bayang) bagi masyarakat sekitar dan para peneliti, walaupun masih berupa teka-teki yang butuh justifikasi dari minimnya statistik akurasi dan ilmiah. Namun beberapa pembeberan akan cukup mengasyikan dan menarik untuk disimak. Hal itu berakar pada jejak fisik maupun non-fisik hasil temuan para peneliti urang awak, orang asing, maupun masyarakat yang mengaku pernah melihatnya secara langsung.

Dilansir dari viva.co.id, Minggu (31/03/2013), ekspedisi selama dua pekan polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, Lampung, melakukan patroli di area berluas 125 ribu hektar guna pemantauan hutan dari pembalakan dan perburuan liar. Dibeberapa titik, mereka yang terdiri dari 4 resor, satu regu patroli diantaranya, resor Rawa Bunder, Way Kanan, mengaku pernah melihat “Orang pendek” secara langsung, Minggu (17/03/2013). Menjelang malam, tujuh polisi itu sedang lelah dan istirahat, dari kejauh terlihat sekelompok makhluk berbentuk manusia, sedikit berbulu, seperti kera, berjalan dengan kedua kaki sambil memegang tombak, bahkan ada juga yang sedang mengendong anak saat melintasi rawa. Mereka mirip manusia purba, tanpa memakai baju dan berambut gimbal memandangi petugas patroli tersebut dari jarak 30 meter. Diduga “Orang pendek” itu sedang mencari ikan atau mencari minum. Dengan sekejap, “Orang-orang pendek" itu masuk ke dalam rimbunan “semak belukar”.

Demi mengungkap rasa penasaran, tiga hari kemudian, grup petugas kehutanan itu mendatangi kembali ke lokasi yang sama. Diwaktu yang persis, berharap “Orang pendek” muncul kembali. Harapan mereka terjawab, “Orang-orang pendek” yang kini berjumlah lebih dari sepuluh terlihat lagi. Sontak, mereka mengabadikan segera menggunakan kamera, namun nihil, hilang di dalam rimbunan “semak blukar”. Hari itu juga mereka memasang 15 kamera inframerah yang aktif pada siang dan malam dengan sistem sensor gerak yang tajam dipasangkan pada tiap areal.

Fenomena ini bukan pertama kali, sebelumnya satu regu pendaki Gunung Singgalang juga melihat makhluk serupa. Sebut saja namanya Denni, anggota regu ini berkisah ketika mengarungi ketinggian gunung setinggi 2.887 meter. Ia pernah bertemu dengan “Orang pendek”. Pagi hari di area dataran pinggang gunung, regu itu  kaget sekaligus takjub melihat sepasang monyet berjalan mengayun khas seperti manusia berjarak kira-kira 30 meter dari mereka. Kenangnya, selain wajah “Orang pendek” itu ditutupi bulu berwarna keemasan, berjalan tegak dan sedang berpegangan tangan. Walaupun posturnya seperti manusia, namun dengan bulu-bulu tipis bagian dinding tubuhnya tampak seperti monyet. Tinggi makhluk itu sekitar 1 meter tanpa ekor. Penampakan itu tergolong langka, dengan sigap Denni mengambil kamera disakunya untuk mengambil gambar. lagi-lagi reflek “Orang pendek” bergerak lebih cepat hilang dirimbunan pepohonan.

Orang Pendek
Taman Nasional Kerinci Seblat (Foto: National Geographic)
Deborah Martyr, perempuan peneliti asal Inggris yang juga pernah melihat “Orang pendek” di Taman Nasional Kerinci Seblat, ia meragukan penampakan yang dilihat oleh polisi hutan Way Kambas adalah makhluk yang sama. “Orang-orang pendek” yang pernah dilihatnya digaris Sumatera Barat, Jambi dan Bengkulu bersifat individual, tidak berkelompok lebih dari tiga orang. Pemimpin Tim Fauna dan Flora International’s Tiger Protection and Conservation Units ini menjelaskan, umumnya “Orang pendek” bersifat soliter dan ia belum pernah melihat secara bergerombolan hingga belasan.

Perkenalannya dengan “Orang pendek” dimulai tahun 1989. Kesibukkan perkerjaan sebagai jurnalis disalah satu media Inggris membawanya berlibur ke kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat yang membentang di empat provinsi, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi dan Sumatera Selatan. Berita burung yang ia dapat dari masyarakat memacu adrenalinnya untuk meneliti keabsahan “Orang-orang pendek”. Pada tahun 1994, Debbie, begitu panggilannya bersama Jeremy Holden tim Fauna dan Flora International-IP dan Achmad Yanuar dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melakukan eksplorasi komprehensif mengenai “Orang-orang pendek”.

Debbie pertama kali melihat “Orang pendek” tahun 1994 di areal Gunung Tujuh dan Gunung Kerinci. Perjalanan berikutnya, tahun 1995 di Solok Selatan. Tahun itu juga ia menyaksikan kembali keberadaan “Orang pendek” di kawasan hutan lindung perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Terakhir, Debbie menyaksikan mereka kembali di sebuah hutan produksi Muko-muko, Bengkulu, dan di Tapan, Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Orang Pendek
Jejak Kaki Mungil (Foto: National Geographic)
Uraian panjang perjalanan, tak satupun yang berhasil memotretnya secara langsung, bahkan kamera canggih yang biasa memotret reflek harimau sumatera tidak berkomentar. Saat ini penelitiannya merujuk pada pandangan jejak dan saksi mata. Dari hasil pantauan, mereka bertubuh agak besar dengan tinggi 130 cm. Warna kulitnya madu tua, dan bulu di kepala sedikit tebal.

Orang Pendek
Jejak Kaki (Foto: National Geographic)
Achmad Yanuar yang menuntaskan gelar magisternya di Universitas Cambridge, Inggris, juga pernah mengalami hal yang sama. Hanya bisa melihat, namun tak bisa mengabadikan gambar. Sebelum Debbie, ia lebih dulu menyaksikan “Orang pendek” di Lampung tahun 1993 yang dimuat pada laporan Project Orang Pendek. Jelasnya, mereka berbulu kecoklatan, berjalan dengan kedua kaki dan mengayunkan tangan layaknya manusia.

Dari hasil menifestasi yang nihil “jepretan”, para peneliti sudah berhasil mengabadikan jejak-jejak spesimen seperti rambut, feses, jejak telapak kaki dan bentuk pola pemukimannya. Teori ‘puzzel’ ini cukup sebagai rantai spektator demi menguak informasi lebih cermat lagi mengenai keberadaan “Orang-orang pendek”. Apakah “Orang pendek” segolong manusia atau sebangsa kera yang belum terdata, namun logat bergaya manusia dan lebih dekat kepada struktur DNA manusia, sampai saat ini masih banyak menuai tanda tanya. (wal)
Description: Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas
Terima kasih anda telah membaca tulisan "Lagi! Perburuan Misteri "Orang Pendek" di Pulau Andalas". Silahkan klik "tombol share" dan menggunakan fitur lain yang sudah tersedia. Anda tidak diizinkan melakukan penggandaan artikel atau copy-paste tulisan kami tanpa izin dan tanpa menaruh sumber aslinya.
Kami mengaktifkan DMCA COMPLAINT sehingga kami berharap anda bisa memakluminya. Untuk info lebih lanjut, baca terlebih dahulu PERATURAN mengenai izin share konten. Terima Kasih.
.

3 Komentar

Anonim
31 Maret 2013 pukul 15.39

Bikin penasaran, haha.. thanks sharenya

21 Juni 2013 pukul 14.55

Terimaakasih ya

23 Juni 2013 pukul 20.13

Sama-sama, terima kasih atas kunjungannya ...

 

Selamat Datang

Selamat datang di "Walman.org", kumpulan informasi edukatif, inspiratif dan informatif. Ragam info bermanfaat dan terbaru yang unik menarik, pusat download gratis dan lain lain, Selengkapnya tentang Saya

Sepintas Tentang Saya :

Nama saya Walman, mahasiswa di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, jurusan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Blog sederhana ini media aplikasi menulis sebagai penyalur hobi, mempererat silaturahmi dan berbagi informasi.

Info