Berita Terbaru :

Taktis GenRe ‘Oke’, Konsolidasi Religi Tetap ‘Te O Pe’


Minggu, 05 Mei 2013

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN)

Lubuk Basung - Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memperkirakan, penduduk Indonesia pada 2013 mencapai 250 juta jiwa, kepadatan penduduk tertinggi berpotensi kemakmuran terancam, goyahnya keseimbangan produktifitas ekonomi dan konsekuen negara lainnya. Berbagai prosedur diupayakan dalam kendali, khususnya segmen anak jolong gadang (Minang: remaja) yang urgen sekali. Pengetahuan kesehatan reproduksi bisa menekan angka kehamilan remaja di luar nikah. BKKBN merupakan lembaga guna mensiasati dan memagari hal tersebut dengan sejumlah program Generasi Berencana (GenRe). Banyak indikasi memprihatinkan di dunia remaja, fakta menunjukkan kasus ‘kumpul kebo’ kerap berdesir ditelinga, dari masyarakat sekitar atau informasi media massa.

Ragam kasus asusila domestik, kasus pencabulan, pemerkosaan, aborsi, pelecehan seksual dan sejenisnya. Double problem, seks luar nikah terkait moral bangsa dan tajamnya angka penduduk semakin menggurita. Remaja produktif usia 15 hingga 19 sebanyak 48,1 persen terutama pada usia 17 tahun mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Setiap tahunnya mencapai 2,3 juta atau 30 persen pernah melakukan aborsi. Data ini menunjukkan tidak tahu risiko dan pengetahuan kesehatan reproduksi yang sangat rendah. Sekitar 62 persen remaja di Indonesia sudah tidak perawan, hal tersebut bersandarkan hasil penelitian Komisi Nasional Perlindungan Anak. Deputi Bidang KBKR, dr. Julianto Witjaksono AS, MGO, Sp.O.G, K.FER mengatakan, satu dari dua remaja, 50 persennya berisiko pernah melakukan hubungan intim.

Sebenarnya bukan di nusantara, di tempat lain hal serupa turut bergejolak. Contohnya, di negara Paman Sam satu dari enam wanita pernah menjadi korban perkosaan dan kasus serupa di India meningkat 23 persen sepanjang tahun 2012 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal serius perlu ditanggapi secara frontal, memang aspek pengetahuan kesehatan reproduksi dan akhlak ini jauh merusak fisik dan psikis yang nantinya memudarkan dunia sosial, apakah minus di dunia pendidikan, turunnya kredibilitas nilai dan moral baik pelaku dan korban.

Risiko meningkatnya kepadatan penduduk sangat besar. GenRe sebagai wadah realisasi negara mengkontruktif isu kependudukan Indonesia khususnya mengenai remaja. Manifestasi ini butuh tahap ‘step by step’ tepat target, data ‘wah’ di atas membuktikan sangat perlunya upaya intens dalam menyikapi risiko remaja.

Remaja masa adolesensi, disebut juga anti sosial, artinya teori dan aksi cenderung memberontak dengan disiplin yang ada di sekitar. Penekanan etika selaku poros primer demi melangsungkan kebutuhan rohani yang berada pada garis haluan. Peran orang terdekat diutamakan, orang tua dan keluarga hanya 30 persen berkontribusi dalam ‘gerak-gerik’ remaja,  sementara 70 persennya lagi, dari teman dan media. Masyarakat juga begitu, menciptakan suasana harmonis mengatur lingkungan sosial yang edukatif, aktifitas definit dan kegiatan interaktif lainnya. Melakukan keseharian dengan tindakan positif, fasilitasi hobi,
mengajak dalam krida lainnya, kolaborasi ini sangat mendukung upaya menekan risiko remaja.

Indonesia yang berlandaskan Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa berada pada garda terdepan. Memprihatinkan dan patut dipertanyakan, apakah agama itu aktifitas jasmani saja, melaksanakan ketentuan-ketentuan tanpa mengenal ‘lebih dalam’ hakekat agama. Fenomena ini banyak menggerogoti  pikiran generasi muda, rentan dengan pengaruh-pengaruh yang berlabel ‘kesenangan’. Sebagaimana yang kita ketahui, agama bukanlah sesuatu, namun hal  mutlak yang berhabituasi pada jasmani dan rohani, hati dan ucapan berbanding lurus dengan perbuatan. kooperasi inilah yang perlu direalisasikan serius di dalam kehidupan bermasyarakat menanggapi isu-isu yang banyak terjadi pada remaja.

Sejatinya kiat GenRe bertujuan prima, hanya saja banyak persepsi buruk oknum masyarakat mengenai langkah-langkah pemasyarakatan. Poin GenRe bagi remaja agar bisa melalui lima transisi kehidupan dengan baik, yaitu mengenyam sekolah yang baik, memperoleh pekerjaan yang kompetitif, remaja bisa menciptakan keluarga yang baik, menjadi anggota masyarakat yang berperan dinamis dalam bermasyarakat dan menerapkan pola hidup sehat.

Ponten langkah GenRe berotasi dua, lancar dan tertunda. Tersendatnya seperti adanya yang menolak pemberian pendidikan seks di sekolahan, apakah kurang sosialisasi atau menganggap bertolak belakang dari nilai-nilai yang berlaku di masyarakat setempat. Kelancaran program kerap tertahan pada audiens, terutama sinisme menyangkal pengenalan dan diseminasi alat kontrasepsi kepada remaja, berdasarkan isu dan komentar dari beberapa masyarakat dan akademisi yang beredar. Secara psikologis, memang remaja sudah pada kapasitasnya. Relatif, tergantung penerimaan, konteks ‘seks’ itu mempunyai magnet tersendiri, dikhawatirkan merangsang cara dan perilaku yang bertolak belakang dari maksud yang diberikan, artinya remaja itu penuh penasaran atau rasa ingin tahu yang berorientasi pada tindakan baik sekaligus buruk.

Dari remaja untuk remaja, atau pembicaraan dari hati ke hati. Pengelola GenRe perlu pengoptimalan plus atau pelatihan khusus dari lembaga demi efisiensi program. Umumnya remaja tabu dan malu  menyampaikan keluh kesah mengenai hal privasi, bisa dikatakan sensitif. Menciptakan suasana akrab, mengerti keadaan sosial setempat, peningkatan komunikatif, aktif dan menarik bagi remaja, berupa perlombaan, outbond, sosialisasi bahaya seks di luar nikah dan sebagainya. Prinsipnya menjadikan GenRe suatu sabjek yang asyik dan menarik untuk diselami dan disimak.

BKKBN berkerjasama dengan Dinas Pendidikan, Departemen Agama, lembaga heterogenitas religi lainnya menjawab tantangan berat negara ini. Pokok kontruktif adalah pembinaan akhlak pada remaja. Banyak dosen atau guru, harapannya mentransformasi pengajar menjadi pendidik. Pendidik cara terbaik menguraikan logika hingga ke hati, berbeda dengan pengajar mengarah teori konvensional. Langkah ini dikembalikan dengan sejumlah program
sosialisasi kepada dinas terkait. Generasi Berencana (GenRe) solusi yang ditawarkan BKKBN sangat presisi bagi kebutuhan remaja. Tetap saja peran religius menjadi tiang utama, dimana pengayaan rohani dipertajam. Siapa yang akan melakukannya, adaptasi ini melalui pendekatan masyarakat memonitoring sekaligus merapatkan kaidah-kaidah berdasarkan norma-norma berlaku pada objek. Penguat sayap ini perlu ditindaklanjuti demi mengurangi risiko remaja.

Esensialnya agama telah mengatur kaedah-kaedah dari berbagai masalah etika remaja, khususnya penulis sebagai umat beragama Islam, tercantum variasi ayat di dalam kitab suci Al-Qur’an mengatur masalah itu secara eksplisit. Perlu ‘efektifitas’ melalui kiat-kiat atau program-program yang disebut manajemen kependidikan, masyarakat, dan akademisi. Itu dilaksanakan oleh individu atau badan yang proporsional dibidangnya. Permasalahan rumit negara ini disederhanakan seperti permainan puzzel, teka-teki yang perlu dilakukan secara sistematis, dan tepat sasaran. (wal)



Description: Taktis GenRe ‘Oke’, Konsolidasi Religi Tetap ‘Te O Pe’ Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Taktis GenRe ‘Oke’, Konsolidasi Religi Tetap ‘Te O Pe’
Terima kasih anda telah membaca tulisan "Taktis GenRe ‘Oke’, Konsolidasi Religi Tetap ‘Te O Pe’". Silahkan klik "tombol share" dan menggunakan fitur lain yang sudah tersedia. Anda tidak diizinkan melakukan penggandaan artikel atau copy-paste tulisan kami tanpa izin dan tanpa menaruh sumber aslinya.
Kami mengaktifkan DMCA COMPLAINT sehingga kami berharap anda bisa memakluminya. Untuk info lebih lanjut, baca terlebih dahulu PERATURAN mengenai izin share konten. Terima Kasih.
.

 

Selamat Datang

Selamat datang di "Walman.org", kumpulan informasi edukatif, inspiratif dan informatif. Ragam info bermanfaat dan terbaru yang unik menarik, pusat download gratis dan lain lain, Selengkapnya tentang Saya

Sepintas Tentang Saya :

Nama saya Walman, mahasiswa di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, jurusan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Blog sederhana ini media aplikasi menulis sebagai penyalur hobi, mempererat silaturahmi dan berbagi informasi.

Info