Menulis menjadi cara efektif untuk mengalihkan segala rasa sakit fisik dan psikis yang diderita. Dengan begitu segala rasio konyol tiada menentu dapat pudar, walau nantinya ciek-ciek (minang: sesekali) muncul kembali. Untaian kata yang sederhana berstatus amatiran cukup menghibur diri dengan menulis, apapun sekira bermanfaat untuk orang lain.
Sarjana yang Tertunda
Tepatnya awal tahun 2011, cerita menyesakkan dada itu bermula. Ambisi dan semangat tetap mengaung sampai akhirnya terkapar di pertengahan garis. Mei 2013 mengundurkan diri berlabel mahasiswa di IAIN Imam Bonjol Padang. Meninggalkan seluruh mata kuliah secara intensif khususnya Ilmu Sejarah Islam sebagai jurusan favorit penulis. Kenyataan pahit, namun itu sudah keputusan pribadi beserta orang tua berdasarkan pertimbangan-pertimbangan ‘mungkin ini lebih baik’.
Lara Tak Bermuara
Kata orang sakitnya sederhana, dianggap biasa dan mungkin bisa diatasi sesaat jika dilakukan pengobatan yang tepat. Penyakit kolaborasi dari radang tenggorokan dan Tonsilitis atau Amandel, penyakit tenggorokan ini cukup membelenggu fokus dan mengganggu aktifitas. Pundak berat, kepala sakit, dan tenggorokan panas nyeri datang secara berulang-ulang. Penulis bergulat berbulan-bulan hingga akhir tahun menahan sakit dan berobat ke sana-ke mari baik tradisional dan medis masih belum memberi lampu hijau. Akhirnya sampai berlabuh di meja operasi, Selasa (19/01/2013), disalah satu rumah sakit umum pusat di Padang, Sumatera Barat.
Pasca operasi, optimisme menapaki hari sangat kuat. Bahkan berangan, mengatur rancangan, ini-itu yang akan dilakukan. Wajar saja sekian lama terbaring tentu mengidamkan apa yang belum dicapai selama sakit. Walaupun belum sembuh, sugesti positif itu selalu setia mengiringi sampai suatu waktu membuat penulis berpikir dua kali.
Sampai saat ini, rasa sakit itu masih menyiksa. Hanya bisa diam, menggeleng dan mengangguk kepala. Tiga orang keponakan yang super aktif, Meri, Fajri dan Nurul yang punya rasa ingin tahu banyak kerap mengutarakan pertanyaan. Paling saya menjawab satu kata atau beberapa kalimat. Di dalam hati sedih, tidak bisa berbuat apa-apa.
Sering kontrol ke rumah sakit, dokter mengatakan hasil operasi sudah bagus dan tidak ada kemungkinan indikasi lain. Nyatanya masih saja sakit tenggorokan, nyeri dipundak dan sakit kepala secara berkala. Penulis mengiyakan, kondisi luka fisik pasca operasi memang terlihat tidak ada masalah, namun rasa nyeri panas itu selalu bergelantungan ditenggorokan. Sering berkunjung, rumah sakit layaknya rumah sendiri, kenal dengan staf dan dokter poli tetangga lainnya hingga saatnya datang perasaan jenuh.
Good Bye Perantauan
Penulis ingin kembali ke tanah kelahiran. Istirahat sepenuhnya dan berobat alternatif sampai semua baik-baik saja. Memberitahu Dosen PA (Pembimbing Akademik), sayangnya tidak bertatap muka, kesalahan besar mahasiswa terhadap seorang dosen sekaligus (layaknya) orang tua di kampus. Bodohnya hanya mengirimkan file melalui kotak masuk Facebook sebanyak 5 lembar berformat Pdf yang berisi argumen penulis “mengundurkan diri sebagai mahasiswa”. Mengurungkan bertemu, rasa nyeri yang dipikul dan keadaan stres membuat pribadi sensitif, sederhananya mudah menangis (malu). Selang dua hari setelah pengiriman file konyol itu penulis angkat kaki dan menepi ke kampung halaman.
Sebenarnya insiden ini pernah terjadi. Akibat frustasi menghadapi keadaan, beberapa dosen (pengertian), Ibu (Dosen PA), PD (Pembantu Dekan) II dan III berhasil memapah persepsi agar bertahan dan selalu tetap berjuang. Namun itu terjadi lagi, dan ini memantapkan hati beserta logika untuk memilih yang harus dipilih. Sampai akhirnya tiada satupun yang berkomentar dengan tindakan penulis, semua diam tanpa kata. Keras kepala dan terlihat menonjolkan pesimis dalam menghadapi realita, jawabnya tidak. Ini bentuk hormat agar tidak merepotkan kembali, diam-diam menghilang karena keadaan semakin memojokkan. Benar-benar merasakan apa yang dirasakan adalah diri sendiri dan tiada mungkin memaksa orang lain harus mengerti.
Berbicara nilai, Semester I Alhamdulillah mendapat IPK 3,79/19 SKS. Akar permasalahan di semester II. IPK 1,02/19 SKS, hanya dua mata kuliah yang keluar, intensif Bahasa Arab ‘A’ dan Komposisi ‘A’, selebihnya paduan nilai ‘E’dan‘F’. Ini dari semangat, tetap kuliah dan berobat diselingi, Alhamdulillah sedikit menabung ilmu. Membuat penulis tumbang, terpampang lembaran IPK Semester III, 0/22 SKS. Fatalnya tidak satupun ikut ujian, lebih mengerikan lagi absensi di bawah 75 persen.
Sekali lagi, kekonyolan ini bukan wujud kenakalan penulis, karena memang keadaan rasa sakit yang diderita tiada sembuh-sembuh juga. Sudah diupayakan untuk belajar dan belajar, namun nyatanya demikian. Penuhi absensi itu mudah, datang dan tiduran di lokal. Tapi apa yang didapat, kosong etika dan keterampilan. Atas dasar minimnya konsistensi dan komitmen kualitas serta kuantitas, maka alangkah baiknya mengundurkan diri sebagai mahasiswa. Sungguh era globalisasi sekarang sangat membutuhkan mahasiswa yang interaktif, kompetitif skil dan kepribadiannya dan pernyataan itu tidak ada dalam kemampuan penulis yang semakin minus.
Apalah mau dikata, terima saja dan ini mengenai amanah orang tua yang tiap bulannya mengucurkan dana dan kesempatan Allah subhanahu wa ta’ala berikan tidak terlaksana dengan baik. Hanya menekurkan kepala dan menerima kenyataan, berusaha tidak menyesali keadaan. Penulis berpikir, jika telah berusaha “sekuat” mungkin tiada perlu disesali, intropeksi, jalani dan nikmati.
Bermenung di Kampung
Kini penulis telah berada di kediaman. Dunia sepi karena membisu lantaran indikasi sakitnya begitu. Sejatinya sangatlah cinta dan rindu akan menggali ilmu di dunia akademisi, terlebih terkait kesejarahan Islam antusias tinggi dalam melakoninya. Kini sebatas cita-cita yang berserakan dan berharap itu terulang. Buku lusuh penulis ambil dirak sulaman bambu, mengasah ilmu (apa adanya) secara swadidik (yang penting baca).
Terasa mulai menjauh, karena tidak diperlukan lagi dan tidak memberi keasyikan, tawa dan manfaat. Sekiranya mendekat terkadang reflek menyampaikan keluh kesah atau berusaha sembunyi dibalik kesedihan dengan sebaris senyuman, sebenarnya cukup menyakitkan. Banyak diam daripada bicara (keadaan), komunikasi yang mungkin membuat orang lain bosan dan dikhawatirkan lebih menjauh. Orang yang pengertian itu tepatnya seperti malam dan siang. Sisi apapun yang diperlakukan adalah hak mereka, kewajiban penulis tetap berusaha menghargai dan memuliakan siapapun jua. Kadang kala penulis mengambil kesimpulan dadakan jika orang datang mendekat karena ada maunya, benar juga, namun esensialnya sisi egoisme yang lebih dipertonjolkan.
Mengadu Asa Ilmu Terdengar Bisu
Beberapa yang punya intelek tinggi dan berstatus sosial mumpuni yang penulis kagumi, berharap tuah bimbingan dan inspirasi, mudah melupakan ‘anak’nya kelas bawah yang kena jotos kehausan ‘logos’, walau jauh ternyata tidak berniat menoleh lagi. Hakekat ilmu memang tidak pandang tinggi rendahnya taraf objek, semua dapat dikaji, tetapi seorang guru tetaplah perlu.
Mungkin saja terlalu sibuk atau ada masalah, entahlah. Didaktik yang otodidak, solusi dengan ‘trial and error’ dan perlu upaya pelaksanaan secara persisten bersama buku-buku. Penulis harus mengarahkan sudut pandang kelain arah guna dapat mengambil penilaian yang ragam. Tiada semua keinginan sesuai harapan. Seluruh pernyataan di atas penulis terima dengan lapang dada. Tetap jaga silahturrahim dan ‘positive thinking’. Apapun itu, inilah jalan “Yang Maha Tahu” berikan, lupakan kenangan buruk dan koreksi personalitas untuk kebaikan mendatang.
Menikmati Menjadi Kuli Tinta
Diselimuti rasa sakit fisik dan psikis ini (bukan berarti dendam dengan keadaan), Alhamdulillah punya kesempatan berargumentasi dan menorehkannya di dalam rangkaian tulisan. Berbicara kualitas masih jauh dan masih konteks ‘pemula’, butuh bimbingan dan reparasi. Terus terang modal dari mata kuliah Komposisi (Bahasa Indonesia) ketika semester II sangatlah berharga dan ilmunya terpatri sampai saat ini.
Pada suatu pagi hari, anggota redaksi memberi penulis sebuah buku terbitan tahunan jurnal fakultas. Ternyata di dalam buku itu tercantum nama penulis sebagai penulis jurnal, Alhamdulillah lolos dengan judul Fenomena Budaya Alay di Kalangan Remaja. Itu tulisan ilmiah pertama penulis yang awalnya dalam rangka memenuhi tugas dan diangkat menjadi jurnal. Walaupun belum apa-apa, orang awam dunia tulis menulis seperti penulis menganggap itu sebagai nilai plus khususnya bagi diri sendiri.
Blog sederhana walman.org merupakan motivasi dari pencapaian di atas yang masih perlu pengasahan dan ketelatenan, sekaligus sebagai media pemanfaatan waktu dengan saling berbagi dan juga demi mengalihkan atau melupakan kenangan pahit masa lalu. Mencari-cari kesibukan agar tetap berkreatifitas seadanya yang bersifat positif. Menulis kini menjadi hobi, arahan yang pudar, yang penting menulis. Penulis sangat senang jika ada yang memberi kritik, saran dan komentar, Insya Allah akan ditanggapi dan menjadikan cermin untuk koreksi.
Perlahan Meraba Jejak
Sekarang penulis pengangguran plus kesembuhan tidak kunjung datang dan telah mempertaruhkan masa depan, mau jadi apa nanti. Biarlah, penulis melakukan hanya apa yang bisa dilakukan, soal nantinya Wallahu a’lam.
Tisam (Titip Salam)
Salam semua teman-teman, sahabat yang telah melukis hari dengan warna dan ukiran ilmu, semoga berhasil dalam meraih cita-cita yang diimpikan. Generasi penerus agama dan bangsa enggan puas dengan apa yang dimiliki, cari ilmu sebanyak-banyaknya sampai dekat dengan kebesaran dan kuasa Sang Maha Pencipta.
Kepada Bapak/Ibu Dosen Fakultas Adab dan seluruh yang pernah ditemui, penulis BP 111.132 ini mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas pemberian ilmu, motivasi, dan perhatiannya. Berkirim do’a semoga dibalas-Nya kebaikan yang telah ditanam, sukses selalu dan berada di dalam lindungan Allah subhanahu wa ta’ala, Allahumma aamiin.
Penutup
Tulisan ini adalah kekonyolan dari keluhan penulis yang mungkin tidak tepat dimuat di blog sederhana ini. Simpan baiknya dan tinggalkan buruknya. Tiada sedikitpun niat untuk menuding, mencemarkan nama baik atau sejenisnya. ‘Sebatas’ cerita hati penulis yang acap kali berdemonstrasi di dalam hati. Atas kesalahan dan kekurangan hamba yang dhaif ini mohon ma’af sebesar-besarnya. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas kunjungannya, wassalamu’alakum Wr.Wb
Salam hangat,
Penulis
Description: Secercah Harapan Fatamorgana - My Diary
Rating: 3.5
Reviewer: Unknown
ItemReviewed: Secercah Harapan Fatamorgana - My Diary



