Berita Terbaru :

Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain


Sabtu, 06 April 2013

naskah
Naskah (Foto: ilustration)
Filologi ialah disiplin ilmu yang membicarakan tentang naskah-naskah kuno dan guna meneliti naskah-naskah tersebut. Filologi memerlukan ilmu-ilmu bantu yang erat hubungannya dengan bahasa dan beberapa ilmu pendukung baik dari ilmu sosial sampai agama.

1. Ilmu Linguistik
Linguistik ialah ilmu mengenai bahasa; riset bahasa secara ilmiah yang hadir pertama kali pada tahun 1808 dalam majalah ilmiah yang disunting oleh Johan Severin Vater dan Friedrich Justin Bertuch (Kridalaksana. 2011:114). Sementara kaitan antara filologi dan linguistik terefleksi dari objek pembahasannya, bahasa. Bilamana filologi melacak makna dari suatu teks yang  pada hakekatnya adalah bahasa, maka filologi memerlukan linguistik sebagai cara untuk memaknai bahasa masa silam dengan berbagai keunikannya.

Setelah itu, ada beberapa bagian linguistik yang diyakini dapat kondusif terhadap filologi dalam pembahasan naskah. Pertama, etimologi yang berguna untuk menggali asal muasal sejarah kata. Kedua, sosiolinguistik ialah bagian linguistik yang membahas koneksi antara perilaku bahasa dan perilaku sosial. Ketiga, yaitu stilistika ialah ilmu yang menyoroti gaya pada bahasa sastra, dengan ini filologi akan terbantu guna memahami umur teks tersebut.

2. Pengetahuan Bahasa-Bahasa yang Mempengaruhi Bahasa Teks.
Dalam bagian ini, seorang filolog harus dapat menguasai atau memahami bahasa-bahasa yang sering termuat dalam naskah kuno yang dapat mempengaruhi suatu teks. Umpama dalam sebuah naskah kuno dalam ranah Nusantara yang banyak dimotivasi oleh bahasa asing. Terutama ialah bahasa Sansekerta dan Arab. Kedua bahasa ini akan memuluskan seorang filolog untuk menjelaskan makna suatu naskah nusantara.

Umpama bahasa Sanskerta yang banyak ditemui dalam naskah cerita fantasi atau berupa epik Ramayana, mahabarata, dan Sang Hyang Kamahayanikan. Sementara dalam kaedah bahasa arab akan ditemui karya dalam melayu kuno berupa karangan Abdurauf Asssingkeli, Hamzah Fanzuri, Nuruddin Arraniri, dan lain-lain. Dalam karya ini, mereka memakai bahasa Arab yang menjelaskan banyak hal tentang agama Islam yang mempunyai bentuk tanpa syakal atau berharokat.

3. Paleografi
Dari beberapa ilmu pendukung dalam kajian filologi, paleografi ialah ilmu yang wajib dipunyai oleh seorang filolog disebabkan ilmu ini mengkaji tentang tulisan-tulisan kuno. Sementara hubungan antara keduanya ialah pembahasan tentang penjabaran tulisan-tulisan kuno baik dalam prasasti, batu ataupun logam. Lebih lanjut, paleografi akan memudahkan dalam menetapkan waktu dan tempat peristiwa tulisan tersebut. Hal ini sangat perlu, sebab indikator-indikator yang hadir dari tulisan tersebut akan memberi titik terang menenai siapa pengarang tulisan tersebut. Selain itu, hal yang tidak boleh dilewatkan ialah observasi anatomi dari tulisan itu sendiri seperti ukuran, bahan naskah, tinta, panjang dan jarak baris dalam tulisan.
Dalam sejarah Asia tenggara, terdapat tulisan kuno yang dikembangkan di Nusantara dulu. Tulisan itu ialah tulisan yang disebut Palawa. Tulisan ini terbagi menjadi 2 ciri, palawa awal dan palawa lanjut. Palawa awal memperlihatkan adanya pengaruh dari India Selatan dan Sri Langka di abad ke-3 hingga abad ke-5. Sementara palawa lanjut, diawali pada abad ke-7 dan 8.

4. Ilmu Sastra
Dalam peradaban nusantara banyak sekali karya fantasi yang mengacu pada karya sastra. Karya sastra ini lebih dikontol dengan karya yang berjenis jenaka atau pelipur lara. Selain itu, ada juga kisah pewayangan yang menggambarkan cerita kehidupan manusia yang tercermin dari substansi agama Islam. Tentunya, itu seluruhnya memerlukan pendekataan yang signifikan demi memahami secara pasti makna dari kisah-kisah tersebut.

Untuk itu, pendekatan yang dirasa baik dan tepat ialah 4 pendekatan milik Abrams (1953) oleh Teeuw (1980) yang diyakini oleh Wellek dan Waren sebagai 3 pendekatan ekstrinsik dan 1 pendekatan intrinsik.
a. Pendekatan Mimeti
    Suatu pendekatan yang lebih memprioritaskan aspek-aspek referensial, acuan karya sastra,
    hubungannya dengan dunia nyata.
b. Pendekatan pragmatik
    Pendekatan yang memprioritaskan respon atau pengaruh suatu teks kepada pembaca  atau
    pendengar.
c. Pendekatan ekspresif
    Suatu pendekatan yang fokus terhadap penulis karya sastra sebagai penciptanya yang memiliki
    banyak arti di dalam karyanya, terutama pada ekspresi dan emosi pengarang.
d. Pendekatan objektif
    Pendekatan yang membahas naskah tersebut tanpa melihat latar belakang (asal muasal)
    naskah tersebut. Namun, para sastrawan modern memperoleh suatu pendekatan yang disebut
    pendekatan represif. Pendekatan ini lebih menitikberatkan seberapa besar respons pembaca
    terhadap karya yang ada.

5. Ilmu Agama
Selain ilmu sastra atau  linguistik yang dibutuhkan dalam memahami sebuah teks, seorang filolog pula harus paham seluk-beluk mengenai agama yang ada di nusantara. Seperti Hindu, Budha dan Islam. Mengingat ketiga agama ini banyak pengaruh terhadap budaya nusantara. Di dalam ilmu bantu yang satu ini diharapkan seorang filolog dapat mengkoneksikan relevansi antara pengaruh agama dalam sebuah naskah seperti yang termuat dalam naskah Brahmadapura sebagai kitab panutan pemeluk agama Hindu.
Lebih lanjut, Dari sejumlah 5.000 naskah Melayu yang telah sukses ditulis oleh Ismail Hussein dari perpustakaan dan museum berbagai Negara yang terdiri dari 800 judul, 300 judul diantaranya seperti karya-karya dalam bidang ketuhanan (Baried, 1994:23).  Dalam penjelasan ini melambangkan bahwa ilmu mengenai agama mempunyai peran penting dalam pembahasan filologi yang nantinya dapat memberikan peran serta terhadap pengkajian isi dari suatu naskah.

6. Sejarah Kebudayaan
Penguasaan Sejarah Negara bagi seorang filolog akan kontributif dalam mengkaji sejarah dan kebudayaan yang telah ada secara runtut dan monumental. Melalui sejarah kebudayaan, kita dapat memahami seberapa jauh kebudayaan yang tumbuh dan berkembang pada waktu itu. Hal ini, sangat berbanding lurus dengan seberapa cerdasnya karya yang mereka hadirkan.

7. Antropologi
Secara singkat dijelaskan bahwa antropologi adalah penyidikan terhadap manusia dan kehidupannya (Partanto, 2001:44). Dari definisi yang ada, maka dapat dihubungkan dengan filologi  bahwa kehidupan manusia tidak bisa terlepas dari adanya kebudayaan dan filologi membahas salah satu budaya dari manusia yang bersifat naskah. Dalam hal ini, antropologi lebih menitikberatkan observasi bagaimana manusia menyikapi naskah yang telah ada dari zaman dahulu hingga sekarang. (*)
Description: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain Rating: 3.5 Reviewer: Unknown ItemReviewed: Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain
Terima kasih anda telah membaca tulisan "Ilmu Bantu Filologi, Kedudukan Disiplin Ilmu Lain". Silahkan klik "tombol share" dan menggunakan fitur lain yang sudah tersedia. Anda tidak diizinkan melakukan penggandaan artikel atau copy-paste tulisan kami tanpa izin dan tanpa menaruh sumber aslinya.
Kami mengaktifkan DMCA COMPLAINT sehingga kami berharap anda bisa memakluminya. Untuk info lebih lanjut, baca terlebih dahulu PERATURAN mengenai izin share konten. Terima Kasih.
.

1 Komentar

31 Oktober 2013 pukul 20.03

Ilmu yang harus dipelajari banyak juga ya gan,,, Terima kasih gan infonya,,, dapat menambah wawasan... salam kenal

 

Selamat Datang

Selamat datang di "Walman.org", kumpulan informasi edukatif, inspiratif dan informatif. Ragam info bermanfaat dan terbaru yang unik menarik, pusat download gratis dan lain lain, Selengkapnya tentang Saya

Sepintas Tentang Saya :

Nama saya Walman, mahasiswa di IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat, jurusan SKI (Sejarah Kebudayaan Islam). Blog sederhana ini media aplikasi menulis sebagai penyalur hobi, mempererat silaturahmi dan berbagi informasi.

Info